SOLOK – Percepatan pemulihan pascabencana di Kabupaten Solok dan Kota Solok, Sumatera Barat, terus dikebut. Sejumlah sektor menjadi prioritas, mulai dari pembangunan infrastruktur, penyediaan hunian tetap (huntap), pengendalian banjir, hingga penyelamatan 115 hektare sawah terdampak bencana.
Percepatan tersebut menjadi perhatian dalam monitoring dan evaluasi khusus yang dilakukan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera di Kabupaten Solok dan Kota Solok, Kamis (13/8/2026).
Tim yang dipimpin Kepala Posko Nasional Satgas PRR Irjen Pol Wahyu Bintono Hari Bawono tersebut meninjau sejumlah lokasi terdampak. Tim juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Forkopimda, BPBD, serta organisasi perangkat daerah teknis untuk memastikan program pemulihan berjalan.
Baca Juga: Bukan Cuma Rumah Tahan Gempa, Warga Agam Terdampak Bencana Juga Dilatih Olah Ikan dan Pinang Di Kabupaten Solok, pemerintah daerah mendapat dukungan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp144 miliar. Realisasi anggaran bidang kesehatan menjadi yang tertinggi, yakni mencapai 91 persen dari alokasi lebih dari Rp6 miliar.
Sementara realisasi bidang ekonomi mencapai 57 persen dari alokasi Rp45 miliar. Adapun bidang pendidikan baru terealisasi sekitar 6-7 persen dari alokasi lebih dari Rp3 miliar.
Realisasi bidang infrastruktur menjadi salah satu yang mendapat perhatian karena baru mencapai 6,7 persen dari alokasi lebih dari Rp88 miliar.
Rendahnya realisasi tersebut disebabkan proses penyesuaian harga satuan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang belum selesai. Kondisi tersebut membuat proses lelang dan pekerjaan fisik belum dapat berjalan maksimal.
Satgas PRR mendorong Pemkab Solok segera menetapkan tenggat penyelesaian dokumen agar kegiatan infrastruktur dapat masuk ke Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE).
"Penyesuaian harga satuan dan RAB harus segera dituntaskan. Sisa waktu tahun anggaran perlu dimanfaatkan secara disiplin karena anggaran infrastruktur ini berkaitan langsung dengan pemulihan konektivitas dan pelayanan masyarakat. Kami mendorong proyek segera masuk tahap pengadaan agar manfaatnya cepat dirasakan warga," kata Wahyu.
Selain infrastruktur, Satgas PRR juga menyoroti kebutuhan relokasi 259 keluarga di Kabupaten Solok yang rumahnya mengalami kerusakan berat.
Saat ini, kuota awal pembangunan huntap baru mencakup 60 unit. Pemkab Solok didorong segera mengajukan tambahan kuota sebanyak 199 unit kepada Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
Pemkab Solok juga diminta mempercepat legalitas pemanfaatan 50 unit Rusun Nelayan di Nagari Muaro Pingai untuk masyarakat terdampak bencana.