ACEH TAMIANG - Rasa syukur dan harapan untuk kembali menjalani kehidupan secara normal mulai tumbuh di tengah para penyintas bencana yang menempati Hunian Sementara (Huntara) Aceh Tamiang 4 di Desa Medang Ara, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Aceh.
Mendung yang menggantung di langit sore itu tak menyurutkan anak-anak penghuni huntara untuk bermain di lapangan rumput kompleks. Ketika hujan deras mulai turun, sejumlah anak laki-laki tetap berlarian dan saling mengejar meski pakaian mereka mulai basah.
Awaludin (43), salah satu penyintas asal Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, tersenyum melihat anak-anak tersebut. Dia mengaku membiarkan anak-anak bermain selama kondisi hujan masih aman.
Baca Juga: Sekda Aceh: Huntara Capai 99 Persen, Pemerintah Kini Fokus Bangun Hunian Tetap "Biarkan saja dulu mereka bermain, asalkan hujan tidak disertai kilat atau petir. Kalau ada kilat, baru kami suruh mereka segera pulang," kata Awaludin.
Awaludin kini tinggal di salah satu unit huntara bersama istri dan kedua anaknya. Hunian tersebut dilengkapi dua tempat tidur dan satu lemari untuk menyimpan pakaian serta barang keluarga.
Rumah Awaludin sebelumnya mengalami kerusakan berat akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir tahun lalu. Kini, huntara menjadi tempat keluarganya berlindung sekaligus memulai kembali kehidupan setelah bencana.
Dia bersyukur keluarganya mendapatkan tempat tinggal sementara yang layak. Menurutnya, huntara bukan sekadar tempat berteduh, tetapi juga ruang bagi keluarganya untuk kembali menata kehidupan.
Di tempat tersebut, anak-anaknya bisa beristirahat, belajar dan bermain tanpa harus terus berada dalam kondisi darurat seperti setelah bencana.
Kompleks Huntara Aceh Tamiang 4 dibangun melalui kolaborasi Kementerian Pekerjaan Umum, PT Wijaya Karya dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Kompleks tersebut terdiri atas 240 unit hunian untuk para penyintas dari sejumlah wilayah di Aceh Tamiang.
Sejumlah fasilitas pendukung juga tersedia bagi penghuni. Di antaranya kamar mandi bersama di setiap blok, dapur umum, tempat ibadah serta fasilitas air bersih.
Ketersediaan fasilitas tersebut membantu para penyintas memenuhi kebutuhan sehari-hari sembari kembali membangun kehidupan dan kebersamaan setelah bencana.
Rasa syukur juga disampaikan Ngatrizal (66) dan istrinya, Yunita (61). Pasangan lanjut usia asal Desa Kebun Tanjung Seumantoh itu kini tinggal di Huntara Aceh Tamiang 4 setelah rumah mereka rusak parah akibat bencana.