BANDA ACEH – Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera mempercepat pemulihan sekitar 57 ribu hektare sawah yang terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh.
Percepatan dilakukan dengan menuntaskan penanganan sawah yang mengalami kerusakan ringan dan sedang pada 2026.
Sementara untuk lahan yang rusak berat, pemerintah menyiapkan solusi permanen berdasarkan kajian ilmiah.
Baca Juga: Ternyata Bukan Alami! 5 Buah Ini Berubah Drastis karena Campur Tangan Manusia Data tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sektor Pertanian, Sistem Pengairan, dan Daerah Aliran Sungai di Kota Banda Aceh, Jumat (7/8/2026).
Berdasarkan data terbaru, sawah terdampak bencana terdiri atas 27.483 hektare rusak ringan, 13.404 hektare rusak sedang, 16.283 hektare rusak berat, dan 125,2 hektare sawah dinyatakan hilang.
Dari total lahan tersebut, sebanyak 6.706 hektare lahan rusak ringan telah dioptimalisasi.
Sementara rehabilitasi telah dilakukan terhadap 4.393 hektare lahan yang mengalami kerusakan sedang.
Dari sisi perencanaan, detail design review serta survei, investigasi, dan desain (SID) telah mencakup 39.409 hektare atau 75 persen dari target 52.394 hektare per 5 Agustus 2026.
Adapun pekerjaan konstruksi telah selesai pada lahan seluas 16.780 hektare atau 32 persen.
Kepala Posko Wilayah Aceh Satgas PRR, Safrizal ZA, mengatakan FGD menjadi ruang untuk menyelaraskan program pertanian, pengairan, dan pemulihan daerah aliran sungai.
Menurut dia, penyelarasan diperlukan agar penanganan di setiap kabupaten dan kota dapat berjalan lebih cepat.
Satgas PRR mendorong Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah daerah, perguruan tinggi, kelompok tani, dan TNI untuk menyatukan langkah.