JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah muncul dugaan gangguan kesehatan terhadap ratusan penerima manfaat di Jayapura, Papua.
Pengawasan tidak hanya diarahkan pada proses penyediaan makanan, tetapi juga keamanan pangan hingga makanan dikonsumsi.
Sebanyak 219 orang dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu MBG di Jayapura.
Baca Juga: Tinggal 2 Hari Lagi, Dapur MBG Tanpa SLHS Terancam Disetop Kepala BGN Sudaryono mengatakan salah satu langkah yang disiapkan adalah mencantumkan label batas waktu konsumsi pada setiap ompreng MBG.
"Kalau sudah lewat jam sebaiknya tidak dimakan. Harus dimakan sebelum jamnya," ujar Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026.
Menurut Sudaryono, kebijakan tersebut diperlukan setelah BGN menemukan seorang anak membawa ompreng MBG pulang ke rumah saat melakukan inspeksi mendadak di Bogor, Jawa Barat.
Makanan berupa burger tersebut rencananya akan disantap bersama ibunya.
Temuan itu menunjukkan bahwa keamanan makanan tidak hanya ditentukan oleh proses pengolahan di dapur penyedia.
Penyimpanan dan waktu konsumsi setelah makanan diterima juga menjadi bagian penting untuk memastikan makanan tetap aman.
Wakil Kepala BGN Trenggono mengatakan penelusuran awal kasus Jayapura mengarah pada dugaan penurunan kualitas salah satu menu, yaitu tempe bacem.
Namun, BGN masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut.
Hingga pukul 15.45 WIT, ratusan pasien telah mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan.