JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap berbagai hasil riset yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Pemerintah ingin hasil penelitian tersebut tidak berhenti pada tahap riset, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan diproduksi secara luas.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan Presiden Prabowo meminta agar hasil penelitian BRIN dikaji lebih lanjut, terutama terkait manfaat, nilai ekonomi, serta peluang produksi massal.
Baca Juga: Isu Reshuffle Kabinet Agustus 2026 Mencuat, Ini Respons Istana "Bapak Presiden memberikan atensi dengan tambahan anggaran penelitian dan alhamdulillah, kemarin hasilnya sudah mulai nampak. Kemarin disampaikan kepada beberapa, kepada Presiden beberapa hasil-hasil penelitian yang itu menjawab apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah-masalah bangsa kita," kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat, 7 Agustus 2026.
Salah satu hasil riset yang mendapat perhatian Presiden adalah pengembangan teknologi nuklir.
Menurut Prasetyo, teknologi tersebut diarahkan untuk kepentingan energi dan kesehatan.
"Kalau berkaitan dengan masalah nuklir, lebih fokus ke masalah untuk, selain penelitian, untuk kepentingan energi ya dan kesehatan," kata Prasetyo Hadi.
Ia menjelaskan, penelitian BRIN mencakup kemungkinan pemanfaatan nuklir untuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), sekaligus pengembangan teknologi medis.
"Jadi misalnya untuk mungkinkah pembangkit listrik tenaga nuklir atau mungkinkah peralatan alutsista berbahan nuklir, dan kesehatan terutama, medis, ya," ujarnya.
Sebelumnya, Kepala BRIN Arif Satria mengatakan teknologi nuklir yang dikembangkan merupakan pemanfaatan nuklir secara damai.
Teknologi tersebut tidak hanya ditujukan untuk sektor energi, tetapi juga pangan dan kesehatan.
"Jadi soal nuklir tadi kan nuklir itu kan tidak hanya untuk energi, nuklir ini termasuk untuk pangan, nuklir untuk kesehatan," kata Arif.