JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya pengembangan sumber daya manusia (SDM) unggul di bidang sains dan teknologi untuk mempercepat kemajuan Indonesia.
Menurutnya, kebangkitan sebuah bangsa tidak hanya bergantung pada sumber daya alam, tetapi juga kemampuan manusia dalam menciptakan inovasi.
Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan taklimat dalam pertemuan bersama para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Baca Juga: Satgas PRR Dorong Percepatan Huntap Aceh Tamiang, 4.159 KK Terdampak Bencana Segera Dipulihkan Dalam kesempatan tersebut, Prabowo mengutip pandangan Presiden ke-3 RI BJ Habibie yang menyebut Indonesia memiliki potensi besar dari jumlah masyarakat yang memiliki kemampuan intelektual tinggi.
"Jadi kita cari penyebabnya apa, baru kita harus berani berbuat. Sains dan teknologi, kita butuh orang-orang pinter, banyak orang pinter. Saya ingat Profesor Habibie mengatakan, oke kita nggak usah takut, 1% saja orang pinter di Indonesia, 1% saja itu hampir 3 juta orang," kata Prabowo.
Menurut Prabowo, Indonesia memiliki banyak potensi SDM yang dapat dikembangkan.
Namun, potensi tersebut membutuhkan proses pembinaan, dukungan, serta kesempatan agar mampu menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Jadi kita sebetulnya bahan bakunya banyak sekali. Tapi ya, apa pun yang kita punya, harus saudara-saudara saintis kan, harus dicari, dibina, diberi kesempatan, dibesarkan, didukung melalui suatu proses," ujarnya.
Prabowo menilai penguatan sains dan teknologi menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai negara maju.
Ia mengatakan, setiap kebijakan pembangunan harus dilakukan dengan pendekatan yang berdasarkan ilmu pengetahuan dan perhitungan yang rasional.
"Jadi pendekatan kita terhadap kebangkitan suatu bangsa, kebangkitan suatu bangsa kita cita-cita semua pendiri bangsa kita, termasuk cita-cita kita semua, bagaimana suatu negara di mana tidak ada kemiskinan, bagaimana satu negara tidak ada ketidakadilan," ujar Prabowo.
Presiden juga mengingatkan agar pembangunan nasional tidak dilakukan dengan pendekatan yang mengabaikan fakta dan ilmu pengetahuan.