JAKARTA- Anggota Komisi XIII DPR RI, Mafirion, mendesak pemerintah mengusut tuntas kasus tewasnya seorang ibu hamil bernama Melkiana Duwita akibat penembakan di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Ia meminta investigasi dilakukan secara independen, transparan, dan akuntabel agar peristiwa tersebut dapat diungkap secara jelas.
Mafirion menilai kematian korban beserta bayi yang masih dikandungnya merupakan tragedi kemanusiaan yang mencerminkan belum optimalnya perlindungan terhadap warga sipil di wilayah konflik.
"Kami sangat prihatin atas kematian seorang ibu hamil beserta bayi yang dikandungnya akibat konflik bersenjata. Tragedi ini menjadi cermin bahwa negara belum mampu memberikan perlindungan maksimal kepada warga sipil, khususnya perempuan dan anak, yang berada di wilayah konflik," ujar Mafirion dalam keterangannya, Selasa (7/7/2026).
Baca Juga: Kemenag Siapkan Materi Edukasi Cegah Penyebaran LGBT, Libatkan Tokoh Agama Ia meminta pemerintah segera membuka kronologi kejadian secara transparan, mengungkap pelaku penembakan, serta memastikan adanya proses hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab.
"Penembakan ini harus diusut tuntas melalui investigasi yang independen, transparan, dan akuntabel. Pemerintah harus membuka secara jelas kronologi kejadian, mengungkap siapa pelakunya, serta memastikan adanya pertanggungjawaban hukum," katanya.
Menurut Mafirion, pengungkapan kasus secara menyeluruh penting untuk memberikan keadilan bagi korban dan keluarganya, sekaligus mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. Ia menegaskan setiap warga negara memiliki hak untuk hidup dan memperoleh rasa aman.
Selain itu, Mafirion menilai konflik berkepanjangan di Papua telah memberikan dampak besar terhadap masyarakat sipil. Tidak hanya menimbulkan korban jiwa, konflik juga membuat warga kehilangan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, hingga mata pencaharian.
Ia mendorong pemerintah mengedepankan penyelesaian konflik melalui dialog, penegakan hukum, perlindungan hak asasi manusia (HAM), serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Mafirion juga meminta pemerintah memperkuat perlindungan terhadap warga sipil, terutama perempuan dan anak yang dinilai menjadi kelompok paling rentan dalam konflik bersenjata. Menurutnya, negara harus memastikan masyarakat dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan aman tanpa ancaman kekerasan.
Diketahui, peristiwa penembakan terjadi di rumah orang tua korban di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Kamis (2/7/2026). Lokasi kejadian berada tidak jauh dari sejumlah kantor pemerintahan serta pos dan markas TNI.
Salah satu peluru dilaporkan menembus dinding kayu rumah dan mengenai kepala korban yang tengah mengandung delapan bulan. Melkiana Duwita bersama bayi yang dikandungnya meninggal dunia akibat insiden tersebut.
Sementara itu, Komando Operasi Habema membantah terlibat dalam penembakan dan menyatakan tembakan berasal dari kelompok bersenjata.* (in/dh)