JAKARTA – Indonesia membagikan pengalaman dalam mengelola ekosistem gambut berbasis data pada pertemuan Global Peatlands Initiative (GPI) yang berlangsung di Lima, Peru. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama internasional dalam mendukung aksi iklim, konservasi lingkungan, dan pembangunan rendah karbon.
Kepala Sekretariat Interim International Tropical Peatland Center (ITPC) Agus Justianto mengatakan pengelolaan gambut menjadi salah satu strategi penting Indonesia dalam menekan emisi gas rumah kaca sekaligus mendukung target Nationally Determined Contribution (NDC).
Menurut Agus, pengelolaan gambut tidak hanya berfokus pada perlindungan lahan basah, tetapi juga menjaga fungsi hidrologi, melestarikan keanekaragaman hayati, serta memastikan pemanfaatan lahan gambut dilakukan secara berkelanjutan.
Baca Juga: DPR Soroti Tingginya Biaya Politik Usai Dua Bupati Pengganti Terjerat OTT KPK "Pengelolaan gambut tidak hanya berbicara tentang perlindungan lahan basah, tetapi juga tentang bagaimana Indonesia menurunkan emisi, menjaga fungsi hidrologi, melindungi keanekaragaman hayati, dan memastikan pemanfaatan gambut dilakukan secara berkelanjutan," ujarnya, Minggu (5/7/2026).
Agus menjelaskan, Indonesia menerapkan pendekatan pengelolaan karbon yang mencakup perlindungan kawasan gambut yang masih alami, pengelolaan berkelanjutan, pencegahan kerusakan tutupan lahan, restorasi hidrologi, hingga rehabilitasi ekosistem yang telah mengalami degradasi.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan gambut dilakukan secara menyeluruh pada skala Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) agar keseimbangan air, fungsi ekosistem, dan emisi karbon dapat dikendalikan secara optimal.
Selain itu, Indonesia terus memperkuat riset dan inovasi restorasi gambut dengan melibatkan 17 perguruan tinggi serta 10 lembaga penelitian. Pengembangan tersebut mencakup sistem pemantauan kondisi gambut, pengelolaan tata air, paludikultur, penghitungan karbon, hingga pembangunan sistem informasi berbasis digital.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekretariat Interim ITPC Bambang Supriyanto memaparkan pengalaman Indonesia dalam membangun sistem pemetaan hidrologi gambut berbasis kedalaman kubah gambut sebagai dasar penentuan lokasi prioritas restorasi.
Menurut Bambang, setiap kawasan gambut memiliki karakteristik yang berbeda sehingga proses restorasi tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama. Penentuan prioritas dilakukan berdasarkan kondisi hidrologi, tutupan lahan, tingkat degradasi, riwayat kebakaran, jaringan kanal, hingga keterlibatan masyarakat setempat.
Ia menambahkan, Indonesia juga telah mengembangkan sistem Monitoring, Reporting, and Verification (MRV) berbasis digital untuk mendukung pemantauan restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove secara transparan dan berkelanjutan.
Melalui forum internasional tersebut, Indonesia menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan gambut membutuhkan kolaborasi antara kebijakan pemerintah, ilmu pengetahuan, teknologi pemantauan, inovasi restorasi, serta peran aktif masyarakat. Pengalaman Indonesia diharapkan dapat menjadi referensi bagi negara-negara pemilik lahan gambut tropis dalam memperkuat upaya mitigasi perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.* (oz/dh)