JAKARTA – Selama bertahun-tahun, Patrick Moore dikenal sebagai salah satu tokoh lingkungan hidup paling berpengaruh di dunia.
Ia merupakan salah satu pendiri Greenpeace dan pernah berada di garis depan berbagai kampanye lingkungan, mulai dari penolakan uji coba nuklir hingga perlindungan mamalia laut.
Namun, pandangannya berubah.
Baca Juga: Harganas 2026, Wagub Sumut Surya: Ketangguhan Keluarga Jadi Benteng Hadapi Tantangan Global Setelah mempelajari perkembangan teknologi dan kebutuhan energi dunia, Moore justru menjadi pendukung energi nuklir.
Perubahan sikap ini menjadi salah satu kisah yang paling sering dibahas dalam perdebatan mengenai masa depan energi bersih.
Moore mengaku perubahan pandangannya tidak terjadi begitu saja.
Ia mengatakan, dulu dirinya memiliki ketakutan yang sama seperti banyak orang terhadap limbah radioaktif dan risiko kecelakaan reaktor.
"Saya selalu takut terhadap limbah nuklir. Saya berpikir bahwa jika berada terlalu dekat dengannya, saya bisa mati. Tetapi secara intelektual, saya juga menyadari bahwa teknologi ini sebenarnya dapat bekerja dengan aman."
Pernyataan tersebut disampaikan Moore dalam wawancara dengan Politico pada 2008.
Ketika isu perubahan iklim semakin menjadi perhatian dunia pada akhir 1980-an, Moore mulai meninjau kembali pandangannya.
Menurutnya, dunia membutuhkan sumber energi bersih dalam jumlah besar untuk menggantikan bahan bakar fosil.
Dalam konteks itu, ia menilai energi nuklir tidak bisa diabaikan.