JAKARTA– Istana Kepresidenan memastikan pelaksanaan latihan dasar kemiliteran (Latsarmil) bagi peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) tetap dilanjutkan meski lima peserta dilaporkan meninggal dunia selama mengikuti pelatihan.
Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro mengatakan pemerintah telah menerima berbagai masukan dari masyarakat terkait insiden tersebut. Seluruh aspirasi itu, kata dia, akan menjadi bahan evaluasi guna memperbaiki sistem pelatihan ke depan.
"Pemerintah mendengarkan seluruh masukan dari masyarakat dan berbagai pihak. Semua itu menjadi bahan evaluasi agar proses pendidikan dan pelatihan berjalan lebih baik," ujar Juri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (29/6/2026).
Baca Juga: Prabowo Ajak Seluruh Rakyat Meriahkan HUT ke-81 RI, Perayaan Kemerdekaan Diminta Jadi Milik Bersama Menurutnya, pelatihan tetap dilaksanakan karena kebutuhan tenaga manajer Koperasi Merah Putih dinilai mendesak. Namun demikian, pemerintah berkomitmen melakukan penyempurnaan terhadap mekanisme pelatihan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Juri menjelaskan, pembekalan yang diberikan kepada peserta tidak hanya berfokus pada kemampuan manajerial dalam mengelola koperasi, tetapi juga mencakup pembinaan mental, disiplin, serta penguatan ideologi kebangsaan.
"Seluruh proses tetap berjalan, namun dilakukan evaluasi dan perbaikan agar pelaksanaan pelatihan menjadi semakin baik," katanya.
Ia juga mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto terus memantau perkembangan kasus meninggalnya lima peserta SPPI. Presiden disebut meminta agar evaluasi dilakukan secara menyeluruh, termasuk memperkuat langkah mitigasi untuk menjamin keselamatan seluruh peserta pelatihan.
"Pemerintah ingin memastikan kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Langkah antisipasi dan mitigasi akan terus diperkuat," jelas Juri.
Diketahui, lima peserta SPPI yang meninggal dunia saat mengikuti Latsarmil masing-masing bernama Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari.
Pemerintah sebelumnya juga telah menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta menegaskan akan melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan program pelatihan tersebut guna meningkatkan standar keselamatan peserta.* (d/dh)