BANDA ACEH – Upaya memperkuat peran perempuan dalam menjaga perdamaian terus dilakukan di Aceh. Hal itu ditandai dengan peluncuran Rumah Perdamaian Aceh sekaligus pembentukan Komite Internasional Women's Peace Group (IWPG) Aceh yang berlangsung di Banda Aceh, Kamis (18/6/2026).
Pembentukan komite tersebut berawal dari kiprah Balai Syura Ureung Inong Aceh yang selama ini menjadi wadah musyawarah dan pemberdayaan perempuan Aceh. Kini, lembaga tersebut bertransformasi menjadi bagian dari Komite Perdamaian Aceh yang terhubung dengan jaringan perdamaian perempuan internasional.
Ketua Presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh, Rasyidah, mengatakan lembaga yang dipimpinnya berdiri sejak tahun 2022 dan fokus pada pendidikan, pelatihan, serta penguatan kapasitas perempuan di Aceh.
Baca Juga: Ustaz Adi Hidayat Hadir di Bhayangkara Fest 2026 Polda Aceh, D'Masiv dan Ghea Indrawari Siap Meriahkan Acara Menurutnya, perjalanan organisasi tidak selalu berjalan mulus. Berbagai tantangan sempat dihadapi, termasuk pasang surut jumlah peserta dalam program pendidikan dan pelatihan yang mayoritas diikuti kaum perempuan.
"Meski menghadapi berbagai tantangan, kami tidak pernah menyerah. Semangat untuk memperjuangkan perdamaian dan pemberdayaan perempuan terus menjadi landasan perjuangan kami hingga akhirnya hari ini dapat bergabung dalam Komite Internasional Women's Peace Group di Aceh," ujar Rasyidah.
Ia menilai perubahan status dari Balai Syura menjadi komite akan semakin memperkuat posisi perempuan Aceh dalam mendorong terciptanya perdamaian yang berkelanjutan di daerah tersebut. Sementara itu, Ana Milana Puspitasari, menyambut baik kehadiran Rumah Perdamaian Aceh.
Menurutnya, fasilitas tersebut dapat menjadi rumah bersama bagi para pegiat perdamaian, aktivis perempuan, dan masyarakat untuk berdialog serta berbagi pengalaman.
"Komite IWPG ini mari kita jadikan rumah besar untuk perdamaian Indonesia. Rumah Perdamaian Aceh bisa menjadi tempat diskusi, dialog, dan ruang bersama untuk membangun perdamaian," kata Ana.
Ana mengaku datang langsung dari Bali untuk menghadiri peresmian tersebut dan bertemu dengan para pejuang perdamaian di Aceh.
Ia berharap Rumah Perdamaian Aceh dapat menjadi pusat pertukaran informasi dan pengalaman bagi berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap isu perdamaian dan pemberdayaan perempuan.
Dukungan juga datang dari Relawan Perdamaian Aceh, Dek Eva. Ia optimistis kehadiran Komite Perdamaian Perempuan di Aceh akan melahirkan lebih banyak aktivis muda yang terlibat dalam gerakan sosial dan perdamaian.
"Semoga semakin banyak perempuan dan generasi muda yang ikut memperjuangkan perdamaian di Aceh. Damai Aceh, Perempuan Hebat, Aceh Meusyeuhu," ujarnya.