JAKARTA – Ribuan alat berat dari berbagai instansi dikerahkan untuk mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Peralatan tersebut digunakan untuk membuka akses jalan yang terputus, membersihkan longsoran, menormalisasi sungai, hingga memulihkan permukiman warga.
Seluruh operasi pemulihan berada di bawah koordinasi Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera.
Baca Juga: Mualem Sambut Silaturahmi Pimpinan MPU Aceh, Bahas MTQ Nasional hingga Tambang Ilegal Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat sedikitnya 1.709 unit alat berat telah dimobilisasi ke berbagai titik terdampak di Pulau Sumatera.
Penguatan armada juga dilakukan melalui dukungan BUMN karya untuk mempercepat penanganan darurat dan pemulihan infrastruktur dasar.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan percepatan pemulihan menjadi prioritas agar aktivitas masyarakat dapat segera kembali normal.
"Kami bergerak cepat untuk memastikan konektivitas tetap terjaga dan kebutuhan dasar masyarakat di lokasi pengungsian terpenuhi," kata Dody.
Distribusi alat berat tersebar di sejumlah wilayah terdampak, antara lain Gayo Lues, Pidie Jaya, dan Aceh Tamiang di Aceh, ruas Tarutung–Sibolga di Sumatera Utara, serta Kabupaten Agam di Sumatera Barat.
Selain Kementerian PU, Kepolisian Republik Indonesia juga mengerahkan 86 unit alat berat dan 18 dump truck untuk mendukung operasi di lapangan.
Di Aceh, peralatan tersebut digunakan untuk membuka desa yang sempat terisolasi, membersihkan rumah warga tertimbun material longsor, serta memperkuat tanggul sungai.
Di Sumatera Barat dan Sumatera Utara, alat berat difokuskan untuk membuka jalur distribusi, membersihkan kawasan permukiman, dan memulihkan akses antarwilayah guna menggerakkan kembali aktivitas ekonomi warga.
Selain pemerintah, dukungan juga datang dari BUMN konstruksi dan sektor swasta, termasuk Brantas Abipraya, Wijaya Karya, serta Komatsu yang turut menyalurkan alat berat ke wilayah terdampak.