JAKARTA — Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memaparkan tujuh capaian yang disebut sebagai hasil diplomasi luar negeri Presiden Prabowo Subianto dalam satu setengah tahun terakhir.
Paparan itu disampaikan sebagai respons atas kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait frekuensi kunjungan luar negeri Presiden.
Teddy menegaskan, evaluasi diplomasi kepala negara tidak semestinya hanya dilihat dari intensitas perjalanan, melainkan dari hasil yang dihasilkan.
Baca Juga: Influencer Sebut Rupiah Melemah Untungkan RI, Ferry Latuhihin: Ini Belajarnya Gimana? "Jangan sampai kita mengaburkan fakta tentang semua hasil yang telah kita capai. Dan semua itu adalah diplomasi yang dilakukan oleh Presiden Prabowo lewat berbagai macam cara, baik yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan," ujar Teddy dalam rekaman video yang dirilis Senin (1/6/2026).
Ia menambahkan, yang menjadi fokus pemerintah adalah capaian konkret dari aktivitas diplomasi tersebut.
Menurut Teddy, hasil diplomasi itu mencakup berbagai sektor, mulai dari ekonomi, perdagangan, pertahanan, kemanusiaan, hingga perlindungan warga negara Indonesia (WNI).
Tujuh capaian diplomasi
Pertama, Teddy menyebut keberhasilan Indonesia bergabung dengan kelompok ekonomi BRICS sebagai langkah strategis memperkuat posisi di tengah ketidakpastian global.
Kedua, pemerintah mengklaim adanya kesepakatan tarif 0 persen untuk sejumlah komoditas Indonesia ke Uni Eropa, yang disebut sebagai hasil perundingan panjang hingga tercapai pada 2025.
Ketiga, diplomasi ekonomi disebut menghasilkan investasi sebesar Rp2.430 triliun berdasarkan data BKPM, termasuk komitmen baru dari Jepang dan Korea Selatan senilai Rp575 triliun.
Keempat, di sektor pertahanan, kerja sama pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dengan sejumlah negara mitra disebut semakin terbuka melalui jalur diplomasi.
Kelima, Teddy menyinggung kerja sama Indonesia–Arab Saudi dalam penyelenggaraan haji, termasuk peluang pengembangan fasilitas layanan jemaah Indonesia di Tanah Suci.