JAKARTA – Istana Kepresidenan melalui Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI, M. Qodari, merespons kritik eks Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait intensitas perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Qodari mengatakan pemerintah mengapresiasi setiap masukan yang disampaikan publik, termasuk dari Dino. Menurut dia, kritik tersebut menjadi bagian dari dinamika demokrasi yang sehat.
"Yang pertama kita terima kasih atas masukan dan saran ya, apalagi memang kalau relevan," kata Qodari di Wisma Danantara, Jakarta, Minggu, 31 Mei 2026.
Baca Juga: Prabowo Pimpin Upacara Harlah Pancasila 2026 di Kemlu, Megawati hingga JK Hadir Qodari menegaskan bahwa setiap agenda perjalanan Presiden ke luar negeri dilakukan berdasarkan pertimbangan manfaat bagi kepentingan nasional. I
a menyebut kunjungan Prabowo ke Prancis, yang salah satunya bertemu Presiden Emmanuel Macron, telah dijadwalkan sebelumnya sebagai kunjungan balasan.
"Pasti azas manfaat menjadi suatu yang utama bagi Presiden dalam mengambil langkah-langkah, termasuk soal ke luar negeri. Manfaat itu dalam pengertian untuk bangsa dan negara," ujarnya.
Ia juga menyebut berbagai kerja sama strategis dibahas dalam kunjungan tersebut, mulai dari sektor pertahanan hingga sumber daya mineral.
"Banyak aspek kerja sama yang dibahas, mulai dari alutsista sampai logam tanah jarang," kata Qodari.
Terkait sorotan publik mengenai biaya perjalanan luar negeri yang dinilai tinggi, Qodari menilai hal tersebut tetap harus dilihat dari sisi manfaat jangka panjang yang dihasilkan.
"Bagaimana kemudian asas kemanfaatan yang dibawa itu juga harus dipertimbangkan atau diperhitungkan," ujarnya.
Ia menambahkan, posisi Prabowo sebagai kepala negara yang memiliki jejaring internasional luas menjadi salah satu faktor intensitas kunjungan luar negeri saat ini.
"Itu merupakan salah satu kelebihan Presiden yang patut kita syukuri," kata dia.