ACEH TAMIANG – Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera terus memperkuat pemulihan akses air bersih bagi masyarakat terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat melalui pembangunan infrastruktur yang modern dan berkelanjutan.
Upaya tersebut dilakukan melalui kombinasi pembangunan ratusan titik sumur bor serta pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) berkapasitas besar yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.
Salah satu proyek strategis yang tengah berjalan adalah pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Baja pada SPAM Karang Baru di Kabupaten Aceh Tamiang.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Aceh Hari Ini, Senin 1 Juli 2026: Sebagian Besar wilayah Berawan Hingga akhir Mei 2026, progres pembangunan telah mencapai sekitar 30 persen dan ditargetkan selesai pada Agustus 2026.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan keberlanjutan layanan air bersih pascabencana tidak hanya bergantung pada penyelesaian konstruksi, tetapi juga pada ketersediaan sumber air baku yang memadai sepanjang tahun.
"Pembangunan IPA baja 2x50 liter per detik saat ini sudah berproses. Namun kita harus memastikan sumbernya atau intake-nya memang terjaga. Sekarang kondisi sungainya memang sedang tinggi, tapi harus dicek juga saat kondisi kering apakah debitnya masih mencukupi," kata Dody saat meninjau pembangunan SPAM Karang Baru di Aceh Tamiang.
Menurut Dody, SPAM Karang Baru nantinya akan mendukung penyediaan sambungan air bersih secara bertahap bagi sekitar 10 ribu rumah tangga.
Infrastruktur tersebut diharapkan mampu meningkatkan ketahanan layanan air bersih masyarakat sekaligus mendukung proses pemulihan wilayah pascabencana.
Penguatan layanan permanen juga dilakukan di Kabupaten Aceh Utara melalui pemulihan SPAM Langkahan yang sebelumnya terdampak banjir dan sedimentasi.
Setelah distribusi air berhasil dipulihkan untuk sekitar 1.500 sambungan rumah, Satgas PRR kini menyiapkan pembangunan SPAM IKK Langkahan baru dengan kapasitas 50 liter per detik.
Dody menegaskan proses rehabilitasi harus mencakup perbaikan instalasi utama maupun jaringan distribusi hingga ke tingkat rumah tangga yang mengalami kerusakan akibat bencana.
"Banyak sambungan rumah yang tertutup lumpur, ada yang bocor, ada yang harus dipotong dan diganti. Kita upayakan secepatnya supaya layanannya bisa kembali lagi seperti semula," ujarnya.