JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR, Herman Khaeron, menilai pemadaman listrik massal (blackout) yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera disebabkan persoalan teknis pada jaringan transmisi, bukan akibat sabotase.
Ia merujuk pada keterangan kepolisian yang sebelumnya menyatakan tidak ditemukan unsur sabotase dalam insiden tersebut.
"Kalaupun terjadi insiden seperti di Sumatera, di mana terjadi putusnya kabel transmisi dan kepolisian sudah menyatakan juga tidak ada sabotase, saya kira ini persoalan teknis," ujar Herman, Sabtu (30/5/2026).
Baca Juga: Jelang Piala AFF U-19, Timnas Indonesia dan Vietnam Gelar Latihan di Stadion Madya Atletik Sumut Herman menjelaskan, gangguan pada kabel transmisi utama dapat berdampak luas karena sistem kelistrikan di Sumatera terhubung dalam jaringan interkoneksi.
Putusnya satu jalur utama dapat memicu gangguan berantai pada sistem distribusi listrik di berbagai daerah.
"Karena dengan kabel transmisi utama putus berarti akan terjadi putus sepanjang jalur transmisi utama itu," kata politikus Partai Demokrat tersebut.
Ia menambahkan, sistem transmisi merupakan komponen krusial dalam ketenagalistrikan nasional karena menjadi penghubung utama distribusi daya antardaerah.
Meski demikian, Herman menilai PT PLN (Persero) telah menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengelola sistem kelistrikan nasional, termasuk dalam mitigasi gangguan.
"Kami meyakini bahwa PLN sekarang semakin profesional, semakin memiliki kemampuan yang baik, dan bisa mengantisipasi berbagai kemungkinan terjadinya gangguan," ujarnya.
Herman juga mendorong agar PLN memperkuat teknologi deteksi dini untuk mempercepat identifikasi titik gangguan pada jaringan transmisi.
Menurut dia, kecepatan identifikasi sangat penting agar penanganan blackout tidak meluas.
"Ke depan bagaimana ada teknologi yang bisa cepat mengidentifikasi di mana terjadinya putusnya kabel transmisi itu," katanya.