JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) kini memperkuat pengawasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui aplikasi digital bernama Reviu Menu MBG (Organoleptik). Sistem tersebut digunakan untuk memantau kualitas, keamanan, hingga kelayakan makanan yang diterima para penerima manfaat di berbagai daerah.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sonjaya, mengatakan aplikasi itu dikembangkan agar pengawasan tidak hanya dilakukan secara internal, tetapi juga melibatkan pihak sekolah dan posyandu.
"Aplikasi ini dikembangkan agar penerima manfaat ikut terlibat dalam pengawasan kualitas MBG. Dengan demikian Ka SPPG dan seluruh mitra semakin serius menjaga kualitas makanan yang didistribusikan," ujar Sony dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).
Baca Juga: Mahasiswa Bangkalan Desak DPRD Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis, Soroti Dugaan Pemotongan Dana Dalam sistem tersebut, guru yang ditunjuk sekolah dan kepala posyandu (Kaposyandu) bertindak sebagai PIC kelompok penerima manfaat MBG. Mereka dapat langsung memberikan penilaian saat paket makanan diterima.
Beberapa indikator yang dinilai meliputi ketepatan waktu distribusi, aroma makanan, rasa makanan, tampilan menu, hingga variasi makanan yang disajikan. Sistem ini sekaligus menjadi langkah deteksi dini apabila ditemukan masalah dalam distribusi makanan bergizi gratis.
Berdasarkan data Dashboard Reviu Menu MBG hingga Sabtu (23/5/2026) pukul 21.31 WIB, tercatat sudah ada 1.707 laporan masuk dari berbagai wilayah Indonesia.
Hasilnya, sebanyak 1.705 laporan atau 99,88 persen menyatakan makanan layak dikonsumsi. Sementara hanya dua laporan yang menyebut makanan tidak layak makan.
Dari sisi distribusi, sebanyak 97,95 persen laporan menyatakan makanan diterima tepat waktu atau bahkan lebih cepat dari jadwal. Sedangkan kualitas aroma makanan dinilai layak pada 99,71 persen laporan.
Selain itu, tampilan makanan sesuai standar pada 99,41 persen laporan, sementara sekitar 98,89 persen laporan menyebut rasa makanan dalam kondisi normal dan dapat diterima dengan baik oleh penerima manfaat.
Sony menegaskan keterlibatan guru dan kepala posyandu diharapkan mampu meningkatkan akurasi pengawasan program MBG sekaligus mencegah munculnya persoalan di lapangan.
"Keterlibatan guru dan Kaposyandu diharapkan bisa meningkatkan akurasi pengawasan sekaligus menjadi sistem peringatan dini bila ada potensi masalah," katanya.
Program MBG sendiri menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak sekolah dan kelompok rentan di Indonesia.*