JAKARTA – Sembilan warga negara Indonesia (WNI) relawan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 akhirnya tiba di Tanah Air setelah sempat ditahan militer Israel saat membawa bantuan menuju Gaza, Palestina.
Namun kepulangan mereka menyisakan kisah pilu. Para relawan mengaku mengalami penyiksaan fisik hingga intimidasi selama ditahan di penjara militer Israel di perairan Mediterania.
Kesembilan WNI tersebut yakni Rahendro Herubowo, Hendro Prasetyo, Andi Angga Prasadewa, Andre Prasetyo Nugroho, Thoudy Badai, Bambang Noroyono, Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, dan Asad Aras Muhammad.
Baca Juga: Tangis Pecah! WNI Relawan Flotilla Pulang usai Ditangkap Israel Mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5/2026) dan disambut langsung Menteri Luar Negeri RI Sugiono.
"Selamat datang kembali, selamat berkumpul dengan keluarga," ujar Sugiono kepada para relawan.
Sugiono mengatakan pemerintah terus berkoordinasi dengan berbagai pihak selama proses pembebasan para WNI, termasuk pemerintah Turkiye, Mesir, dan Yordania.
Salah satu relawan, Rahendro Herubowo, mengaku mengalami kekerasan fisik sejak pertama kali dipindahkan dari kapal menuju kapal militer Israel.
"Kita sudah mulai menghadapi penyiksaan sejak awal," ujar Rahendro.
Ia mengaku dipukul di bagian kepala dan tubuh, diinjak hingga disetrum oleh tentara Israel di ruang penahanan berbentuk kontainer gelap.
"Saya dipukul kepala, badan depan belakang, sempat diinjak dan terakhir saya disetrum," katanya.
Menurut Rahendro, para tahanan juga diborgol sangat kencang dan mendapat perlakuan kasar selama proses pemindahan.
Tak hanya itu, para relawan juga mengaku hanya diberi makanan terbatas berupa roti dan air minum. Sebagian besar tahanan memilih melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes.