JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi fenomena El Nino yang diperkirakan melanda Indonesia mulai Juni 2026 hingga Maret–Mei 2027.
Berdasarkan prediksi BMKG, El Nino yang terjadi kali ini diperkirakan memiliki intensitas moderat hingga kuat dan berpotensi memengaruhi musim kemarau di Indonesia.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fatani mengatakan, pemerintah telah mendapat arahan langsung dari Presiden untuk memperkuat operasi modifikasi cuaca (OMC) di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga: FTSE Russell Coret 4 Saham RI, Dana Asing Rp 4 Triliun Kabur dari Bursa "Bapak Presiden memberikan direktif agar BMKG memperkuat operasi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi kemarau yang bersamaan dengan El Nino," kata Faisal, Sabtu (23/5/2026).
Menurut dia, OMC akan dilakukan secara bertahap di berbagai daerah untuk menjaga ketersediaan air di waduk, embung, dan daerah tangkapan air.
Faisal menjelaskan, El Nino diprediksi mulai aktif pada Juni 2026 dengan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga September 2026. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memperpanjang musim kering dan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.
Selain itu, pemerintah juga mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, termasuk wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Langkah antisipasi dilakukan secara lintas kementerian dan lembaga dengan fokus pada pencegahan sejak dini, termasuk pemantauan titik panas (hotspot) dan kondisi air tanah di lahan gambut.*
(k/dh)