JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY menyoroti masih kuatnya ego sektoral di lingkungan kementerian pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
AHY menyebut masih ada kementerian yang merasa paling penting hingga saling berebut anggaran dalam menjalankan program pemerintahan.
Menurut AHY, kondisi tersebut berpotensi menghambat efektivitas pembangunan nasional karena minimnya koordinasi antarlembaga dan kurangnya integrasi program.
Baca Juga: Prabowo Targetkan Indonesia Swasembada Daging dalam 5 Tahun "Sekarang terlalu sering, termasuk di birokrasi antarkementerian dan lembaga itu seperti ada sekat-sekat, seperti ada barriers, ego," kata AHY, dikutip Sabtu (23/5/2026).
Ia menilai pola pikir yang mengedepankan kepentingan sektoral harus segera dihilangkan agar program pemerintah berjalan lebih sinkron dan tepat sasaran.
"Paling sering itu ego. Pokoknya gue dulu, gue lebih penting, gue harus lebih banyak anggarannya. Padahal tujuannya sama," sambungnya.
AHY menjelaskan dampak buruk dari lemahnya koordinasi pernah terjadi dalam pembangunan infrastruktur di masa lalu. Ia mencontohkan pembangunan bandara yang tidak didukung akses jalan dan konektivitas memadai sehingga penggunaannya tidak optimal.
"Kita membuat bandara besar, tapi kalau konektivitas menuju bandara tersebut terbatas, akhirnya bandara itu sepi dan tidak maksimal penggunaannya," ujarnya.
Ketua Umum Partai Demokrat itu juga menekankan pentingnya komunikasi lintas lembaga dalam menghadapi tantangan nasional, termasuk ancaman El Nino yang berdampak terhadap sektor pangan.
Menurutnya, koordinasi dengan BMKG menjadi penting agar pemerintah dapat menyiapkan langkah mitigasi seperti pengelolaan bendungan, irigasi, hingga operasi modifikasi cuaca.
AHY mengatakan setiap informasi dan masukan dari berbagai lembaga harus menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan pemerintah agar pembangunan berjalan terintegrasi dan berkelanjutan.
"Itulah pentingnya connection," tegas AHY.