JAKARTA – Komisi I DPR RI menyesalkan kasus penyalahgunaan teknologi deepfake yang menyeret mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Kalimantan Barat, berinisial RY. Kasus itu viral setelah pelaku diduga mengedit foto sejumlah mahasiswi menjadi konten vulgar menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menegaskan praktik manipulasi digital tersebut merupakan tindakan yang merendahkan martabat perempuan dan berpotensi melanggar hukum.
"Komisi I DPR RI menyesalkan terjadinya praktik penyalahgunaan teknologi digital yang merendahkan martabat perempuan dan menimbulkan keresahan di masyarakat," ujar Dave Laksono, Jumat (15/5/2026).
Baca Juga: Sambut Iduladha, Ustaz Muharrir Asy’ari Ajak Umat Tingkatkan Ketakwaan dan Keikhlasan Berqurban Menurutnya, penggunaan teknologi deepfake untuk membuat konten tidak senonoh tidak hanya melanggar etika dan moral, tetapi juga mengancam keamanan ruang digital.
Dave meminta Kementerian Komunikasi dan Digital segera mengambil langkah konkret untuk memperkuat pengawasan dan regulasi terkait penyalahgunaan teknologi AI dan deepfake.
"Ruang digital harus menjadi tempat yang sehat untuk inovasi dan kreativitas, bukan arena eksploitasi yang merugikan hak asasi manusia," katanya.
Komisi I DPR juga mendorong adanya sistem deteksi dini, penindakan tegas, serta peningkatan literasi digital kepada masyarakat agar memahami dampak serius dari manipulasi teknologi tersebut.
Selain itu, DPR mendukung proses investigasi yang sedang dilakukan pihak kampus maupun aparat penegak hukum sesuai ketentuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Kasus ini mencuat setelah sejumlah mahasiswa menemukan banyak foto vulgar hasil editan AI di ponsel milik terduga pelaku saat kegiatan praktikum berlangsung.
Salah satu korban berinisial S mengaku terkejut setelah mengetahui foto-foto teman kuliah dan rekan sekolah mereka telah dimanipulasi menjadi konten tak senonoh.
Bahkan, disebutkan terdapat editan AI yang memperlihatkan pacar pelaku seolah sedang berciuman dengan pria lain.
Kasus tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan grup percakapan mahasiswa hingga memicu keresahan di lingkungan kampus.