JAKARTA – Anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, menyoroti polemik pelarangan pemutaran film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita di sejumlah daerah.
Menurut Azis, kritik terhadap pembangunan di Papua merupakan hal yang sah dalam sistem demokrasi.
Namun, ia menilai kritik tetap harus disertai tanggung jawab etik agar tidak berkembang menjadi penggiringan opini publik.
Baca Juga: Eks Menteri Ginandjar Ungkap Alasan Soeharto Lengser: Tak Bisa Melawan Arus Sejarah "Kita harus jujur mengatakan, kritik terhadap pembangunan Papua adalah sesuatu yang sah. Demokrasi memang memerlukan suara-suara yang mengingatkan negara agar tidak kehilangan nurani," kata Azis dalam keterangannya, Kamis, 14 Mei 2026.
Meski demikian, Azis mengingatkan bahwa kritik yang terus menerus disampaikan tanpa keberimbangan berpotensi membentuk persepsi sepihak di masyarakat.
"Penggiringan persepsi yang terus dipelihara dapat berubah menjadi propaganda sosial yang memperlebar ketidakpercayaan masyarakat terhadap negaranya sendiri," ujarnya.
Azis menilai film dokumenter tersebut lahir dari ruang advokasi sosial yang memang memiliki sudut pandang moral dan politik tertentu.
Menurut dia, film itu bukan karya jurnalistik netral yang menjaga jarak terhadap seluruh pihak, melainkan karya yang secara terbuka memilih perspektif tertentu terkait pembangunan di Papua Selatan.
Ia menilai film tersebut membangun narasi emosional kuat mengenai hilangnya hutan, perubahan tanah adat, hingga masyarakat yang merasa tersingkir akibat pembangunan.
Namun, Azis menegaskan realitas di Papua jauh lebih kompleks dibanding narasi hitam-putih yang menempatkan negara semata sebagai pihak yang merampas hak masyarakat adat.
"Papua bukan ruang hitam putih. Ada masyarakat adat yang kritis terhadap pembangunan, tapi ada juga masyarakat Papua yang berharap anak-anak mereka keluar dari kemiskinan," katanya.
Azis juga menyoroti pola distribusi film yang lebih banyak diputar melalui jaringan komunitas, forum aktivisme, kampus, hingga diskusi terbatas dibanding jalur komersial umum.