ACEH - Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Aceh, Taqwaddin Husin, menekankan pentingnya percepatan reboisasi hutan di wilayah dataran tinggi Aceh.
Upaya ini dinilai mendesak untuk memulihkan fungsi ekologis sekaligus mengurangi risiko bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.
Pernyataan tersebut disampaikan Taqwaddin saat melakukan kunjungan lapangan ke kawasan Dataran Tinggi Gayo pada Sabtu, 2 Mei 2026.
Baca Juga: Pemerintah Aceh Kebut Rehabilitasi Lahan Pertanian Pascabencana, Anggaran Tembus Rp380 Miliar Ia didampingi sejumlah pengurus daerah ICMI Aceh Tengah serta akademisi dari Universitas Gajah Putih.
Menurut Taqwaddin, kondisi hutan yang mengalami degradasi di wilayah hulu perlu segera ditangani melalui program penanaman kembali secara sistematis.
"Reboisasi penting untuk memulihkan fungsi ekologis, hidrologis, serta menjaga keanekaragaman hayati. Ini juga bagian dari upaya mencegah banjir, longsor, dan mengurangi dampak pemanasan global," ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, Taqwaddin bersama rombongan juga melakukan diskusi terbatas dengan pengurus ICMI Aceh Tengah.
Ia didampingi antara lain oleh Yusny Saby dan Agustin Hanafi. Selain itu, mereka turut menyerahkan wakaf Alquran kepada masyarakat terdampak bencana banjir dan longsor.
Pada kesempatan itu, pengurus ICMI Aceh Tengah mengusulkan penyelenggaraan seminar internasional kebencanaan di Takengon dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Seminar tersebut direncanakan menghadirkan narasumber dari berbagai negara, termasuk Bahrain, Malaysia, Jepang, dan Indonesia.
Menanggapi rencana tersebut, Taqwaddin yang juga dosen pada program Magister Ilmu Kebencanaan di Universitas Syiah Kuala menekankan pentingnya pendekatan hulu-hilir dalam penanggulangan bencana.
Ia mengingatkan agar pembahasan tidak hanya berfokus pada dampak di hilir, tetapi juga menyasar perbaikan ekosistem di kawasan hulu seperti hutan dan daerah aliran sungai.