JAKARTA – Badan Pangan Nasional (Badan Pangan Nasional) meminta pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan lebih ketat dan terkontrol agar tidak kembali terjadi kasus keracunan makanan di lapangan.
Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, menegaskan bahwa aspek keamanan pangan menjadi prioritas utama dalam program yang menjadi salah satu agenda strategis pemerintah tersebut. Ia menilai pengawasan harus diperkuat mulai dari hulu hingga hilir distribusi makanan.
"Diharapkan program Makan Bergizi Gratis ini ke depan dapat lebih tertib dan tidak ada lagi isu terkait keracunan," ujar Sarwo dalam agenda APPMBGI National Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (25/4/2026), dikutip Minggu (26/4/2026).
Baca Juga: 1.700 SPPG Disuspend BGN, Irma NasDem Soroti Dugaan ‘Permainan’ Korwil di Lapangan Program MBG (Makan Bergizi Gratis) sendiri merupakan inisiatif pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya pelajar, dalam rangka mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Bapanas bersama Kementerian Pertanian juga terlibat dalam penyediaan bahan pangan utama seperti beras, telur, daging, hingga komoditas hortikultura. Pemerintah memastikan pasokan 11 komoditas pangan strategis berada dalam kondisi surplus untuk menopang program tersebut.
Sarwo menjelaskan, pemerintah juga mendorong pemangkasan rantai distribusi pangan agar lebih efisien. Petani diharapkan dapat terhubung langsung dengan penyedia makanan melalui koperasi dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Selain itu, pengawasan keamanan pangan diperketat dengan menghadirkan laboratorium keliling untuk menguji bahan baku secara langsung di lapangan. Langkah ini dilakukan untuk mencegah risiko makanan tidak layak konsumsi.
Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan edukasi terkait sanitasi, higiene, serta pengelolaan sisa makanan agar program berjalan lebih ramah lingkungan.
"Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi semua pihak. Tanpa itu, tujuan besar MBG akan sulit tercapai," kata Sarwo.*
(an/dh)