MEDAN - Seorang jemaat Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Sutrisno Pangaribuan menyebutkan, potongan video ceramah Muhammad Jusuf Kalla telah dijadikan bahan untuk menggerakkan reaksi dari berbagai pihak yang justru menimbulkan keriuhan di tengah masyarakat.
Sayangnya, Sutrisno tidak menjelaskan kelompok yang menggerakkan dimaksud. Yang jelas, vidio itu, beredar secara luas (bukan produk jurnalistik) yang tentu tidak memenuhi ketentuan penyebarlusan sebuah video ceramah di publik.
Sehubungan dengan itu, Sutrisno yang juga dikenal sebagai inisiator Konser Perdamaian Dunia (KONPERDA) menyampaikan 10 point pandangan.
Baca Juga: IHSG Anjlok, Prabowo Tidak Marah, Semua Pihak Diminta Tetap Sabar - Pertama, video cermah Muhammad Jusuf Kalla harus dilihat dan dipahami secara utuh tanpa sentimen, emosi, kebencian, dan amarah kelompok sosial masyarakat Indonesia manapun, tanpa ditarik- tarik sebagai bahan pertentangan Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).
- Kedua, bahwa telah dijelaskan oleh Muhammad Jusuf Kalla sendiri bahwa kejadian yang dijelaskan dalam ceramah tersebut tentang konflik berbau SARA di Maluku, Maluku Utara dan Palu saat itu. Maka semua pihak harus dapat memahami secara jernih konteks permasalahan yang dibahas.
- Ketiga, bahwa tidak terdapat materi ceramah yang menista ajaran Agama Kristen dalam potongan video tersebut. Sebab Muhammad Jusuf Kalla menjelaskan bagaimana warga negara yang berbeda agama saling membunuh pada konflik Ambon dan Poso.
Faktanya didapati korban dari kedua belah pihak yang saling berhadap- hadapan saat konflik berbau SARA pada saat itu.
- Keempat, bahwa reaksi dari berbagai pihak, Ormas, OKP, Komunitas , maupun perorangan yang mengatasnamakan umat Kristen Indonesia terhadap pernyataan Muhammad Jusuf Kalla, tidak mewakili suara dan aspirasi umat Kristen Indonesia.
Kecaman, ancaman, ujaran kebencian sebagai reaksi atas ceramah Muhammad Jusuf Kalla, kata Sutrisno, justru menjadi bias, aksi reaksi.
- Kelima, bahwa suara umat Kristen secara umum diwakili oleh PGI, PGPI, dan Katolik diwakili oleh KWI. Maka reaksi kelompok di luar itu adalah reaksi biasa yang tidak mewakili suara umat Kristen Indonesia.
- Keenam, bahwa jika ada kekeliruan dalam materi yang disampaikan dalam ceramah Muhammad Jusuf Kalla, maka Muhammad Jusuf Kalla diharapkan dapat segera bertemu dengan PGI, PGPI, dan KWI agar polemik dapat diakhiri.
- Ketujuh, bahwa inti dari ajaran Kristus adalah Kasih terhadap Tuhan Allah dan terhadap sesama manusia. Maka jika meneladani Kristus secara totalitas dipastikan tidak ada umat Kristen yang marah, emosi, bahkan melaporkan Muhammad Jusuf Kalla kepada Polri. Umat Kristen Indonesia itu juru damai, suka menebar kasih, tidak suka lapor- lapor.