JAMBI - Volume sampah nasional Indonesia kini mencapai sekitar 141 ribu ton per hari. Pemerintah pun menyiapkan berbagai strategi untuk menekan angka tersebut, salah satunya melalui pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi atau Waste-to-Energy (WtE).
Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan, proyek WtE akan dibangun di 72 kabupaten/kota sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Fasilitas ini diharapkan mampu mengurangi timbulan sampah hingga sekitar 4 ribu ton per hari.
"(Ada) 72 kabupaten/kota yang berkontribusi mengurangi sampah sampai kurang lebih 4 ribu ton per hari," ujar Hanif saat ditemui di Danau Sipin, Kota Jambi, Sabtu (11/4/2026).
Baca Juga: 34 Tahun di Pencak Silat, Prabowo Lepas Jabatan Ketum IPSI Demi Fokus Jadi Presiden Meski demikian, masih terdapat sekitar 100 ribu ton sampah per hari yang belum tertangani melalui proyek tersebut. Untuk mengatasi hal itu, pemerintah menyiapkan berbagai metode tambahan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah.
Beberapa metode yang akan diterapkan antara lain pengolahan refuse-derived fuel (RDF), biodigester, hingga sistem pengelolaan sampah skala lokal yang telah dikalibrasi oleh kementerian terkait.
"Sesuai arahan Presiden, dilakukan metodologi lain yang menyesuaikan karakteristik demografi di seluruh tanah air," jelasnya.
Hanif juga menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Menurutnya, sampah yang dipilah memiliki nilai ekonomi, sementara sampah yang tercampur justru menjadi beban biaya dan masalah lingkungan.
"Sampah yang dipilah sebagian akan menjadi berkah, sampah yang tidak dipilah akan menjadi musibah," tegasnya.
Saat ini, capaian pengelolaan sampah nasional baru mencapai 26 persen. Padahal, target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebesar 63,41 persen pada tahun 2026.
Selain itu, pemerintah juga menargetkan penghentian praktik pembuangan terbuka (open dumping) di seluruh Indonesia paling lambat Agustus 2026.*
(k/dh)