JAKARTA — Pemerintah memastikan tidak akan menarik prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon, United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan keputusan tersebut tetap diambil meski sebelumnya tiga prajurit TNI gugur dan delapan lainnya mengalami luka-luka dalam insiden di area misi.
"Oh tidak ada untuk ke situ [menarik pasukan TNI dari UNIFIL]. Evaluasi tetap berjalan, evaluasi ke dalam dan ke luar," ujar Teddy, Jumat, 10 April 2026.
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Dana Rampasan Rp11,4 Triliun Bakal Dikelola untuk Bangun Sekolah hingga LPDP Ia menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian merupakan bagian dari komitmen konstitusional untuk menjaga ketertiban dunia, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Menurut Teddy, pengiriman pasukan ke misi perdamaian juga telah mendapat dukungan penuh dari Panglima TNI dan Kementerian Luar Negeri.
Sebelumnya, insiden yang menewaskan prajurit TNI di Lebanon menjadi sorotan internasional. Juru bicara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Stéphane Dujarric menyebut serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum internasional.
PBB menyatakan hasil investigasi awal UNIFIL menunjukkan adanya dugaan keterlibatan pihak Israel dan Hizbullah dalam rangkaian insiden yang menyebabkan korban jiwa dari pasukan perdamaian.*
(bb/ad)