JAKARTA - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo tetap melanjutkan pembangunan infrastruktur pengendali banjir meski dilakukan dalam kondisi tanggap darurat. Keputusan itu diambil demi mencegah dampak bencana yang lebih besar, khususnya di wilayah Sumatera.
Dody mengaku sempat mendapat teguran dari Presiden Prabowo Subianto terkait langkah percepatan pembangunan tersebut. Namun, ia tetap menjalankan proyek karena dinilai mendesak.
"Saya sudah mengaku salah ke Pak Presiden waktu rapat di Sentul. Karena saya terpaksa harus mengerjakan rehabilitasi dan rekonstruksi dalam kondisi tanggap darurat," kata Dody dalam media gathering di Jakarta Selatan, Jumat (10/4/2026).
Baca Juga: Hadapi Potensi Kemarau Panjang akibat El Nino, Menteri PU Siapkan Optimalisasi Bendungan dan Modifikasi Cuaca Menurutnya, percepatan pembangunan dilakukan lantaran risiko banjir susulan masih tinggi. Ia mencontohkan kondisi di Aceh yang kembali dilanda banjir.
"Kalau tidak segera dikerjakan nanti timbul banjir lagi yang lebih parah, dan sekarang terbukti mulai banjir lagi di Aceh," ujarnya.
Kementerian PU saat ini mempercepat pembangunan sabo dam di sekitar 188 titik, termasuk di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Sejumlah proyek bahkan berada di kawasan taman nasional dan telah mendapat dukungan dari Kementerian Kehutanan.
Dody menegaskan langkah tersebut merupakan upaya preventif untuk memperkuat infrastruktur di wilayah rawan bencana seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
"Beliau sedikit marah, tapi enggak apa-apa karena itu diperlukan," imbuhnya.
Perbaikan Jembatan Dikebut
Selain pembangunan dam, Kementerian PU juga mempercepat perbaikan jembatan di jalur strategis Medan-Banda Aceh. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kelancaran distribusi logistik menjelang Lebaran 2026.
"Terutama yang terkait logistik apakah BBM, beras, dan seterusnya," jelas Dody.