JAKARTA - Dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz selama dua pekan dinilai menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat cadangan energi nasional.
Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, meminta pemerintah bergerak cepat memanfaatkan situasi tersebut di tengah ketidakpastian geopolitik global.
"Ini saat yang tepat untuk memperkuat stok energi nasional. Impor harus dipercepat dan cadangan harus diamankan selagi harga masih relatif terkendali," kata Mufti, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: Comeback Gila! Indonesia Tekuk Australia 3-2 di Detik Akhir Menurutnya, peluang ini tidak akan berlangsung lama sehingga pemerintah tidak boleh lengah. Ia mengingatkan kondisi global bisa kembali memanas sewaktu-waktu.
"Jangan sampai kita panik ketika situasi kembali memburuk. Pemerintah harus berpikir ke depan," tegasnya. Mufti juga menyoroti masih tertahannya dua kapal tanker milik Pertamina meskipun jalur pelayaran sudah kembali dibuka.
"Hari ini kita diuji. Dua tanker Pertamina masih tertahan, padahal Selat Hormuz sudah dibuka. Ini harus segera ditangani," ujarnya.
Ia pun mendesak pemerintah agar tidak bekerja dengan ritme birokrasi biasa dalam menghadapi situasi krisis. "Harus ada langkah cepat dan berani. Jangan santai," tambahnya.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran selama dua pekan.
Kesepakatan itu diambil usai mediasi yang melibatkan pemerintah Pakistan, dengan syarat pembukaan jalur aman di Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga menyatakan pihaknya menyetujui pembukaan jalur pelayaran tersebut selama masa gencatan senjata berlangsung.*
(k/dh)