JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyiapkan 28 armada udara untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026.
Langkah ini diambil seiring prediksi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga September.
Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Budi Irawan, mengatakan armada tersebut terdiri atas 12 helikopter patroli dan 16 helikopter water bombing yang akan ditempatkan di wilayah rawan.
Baca Juga: Produktivitas Padi Terancam Kekeringan, Pemerintah Tancap Gas dengan AWD Wilayah tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
"Pengerahan armada udara dapat ditambah sesuai dengan eskalasi kondisi di lapangan," kata Budi, Selasa, 7 April 2026.
Selain operasi udara, BNPB mengandalkan operasi darat serta operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai bagian dari strategi terpadu pengendalian karhutla.
Kombinasi ini dinilai efektif untuk menekan potensi kebakaran sejak dini.
BNPB juga telah menyalurkan dukungan berupa dana, peralatan, dan logistik ke daerah rawan. Dalam waktu dekat, lembaga tersebut akan menggelar rapat koordinasi pusat dan daerah serta apel kesiapsiagaan.
Di sisi lain, BNPB menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menetapkan status siaga darurat lebih awal agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi.
Upaya pencegahan juga difokuskan pada patroli rutin, edukasi masyarakat, serta pemanfaatan teknologi pemantauan titik panas untuk deteksi dini.
Berdasarkan data BNPB, luas kebakaran hutan sangat dipengaruhi fenomena iklim global seperti El Niño. Pada 2015, saat El Niño kuat, luas kebakaran mencapai sekitar 1,8 juta hektare.
Angka tersebut menurun dalam beberapa tahun terakhir, meski potensi karhutla tetap perlu diwaspadai, terutama saat musim kemarau panjang.*