JAKARTA – Polri telah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk menghadapi puncak arus balik Lebaran 2026 yang diprediksi akan terjadi pada Selasa, 24 Maret.
Salah satu langkah utama yang diambil adalah penerapan sistem rekayasa lalu lintas satu arah secara nasional, yang bertujuan untuk mengurai kepadatan kendaraan yang menuju Jakarta.
Baca Juga: Didit Prabowo Rayakan Ulang Tahun dan Silaturahmi Idulfitri dengan Megawati dan SBY Juru Bicara Polri untuk Operasi Ketupat 2026, Kombes Pol Jansen Avitus Panjaitan, menjelaskan bahwa kebijakan satu arah ini akan diberlakukan mulai pukul 14.00 WIB dari kilometer (km) 414 Kalikangkung hingga km 70 arah Jakarta.
"Kami akan memberlakukan satu arah nasional mulai pukul 14.00 WIB dari km 414 Kalikangkung hingga km 70 menuju Jakarta sebagai langkah mengurai kepadatan arus balik," ungkap Jansen dalam konferensi pers yang diadakan di Jakarta, Senin (23/3/2026).
Berdasarkan data yang dirilis Polri, volume kendaraan yang memasuki Jakarta melalui empat gerbang tol utama telah mencapai 225.293 unit, meningkat 73,71% dibandingkan dengan kondisi normal.
Sebaliknya, kendaraan yang keluar dari Jakarta tercatat sebanyak 167.939 unit, yang juga mengalami kenaikan sebesar 28,55%.
Lonjakan volume kendaraan ini menjadi indikator kuat bahwa arus balik sudah mulai meningkat signifikan, sehingga pengaturan lalu lintas menjadi sangat diperlukan.
"Hal ini menunjukkan bahwa arus balik Lebaran sudah mulai meningkat, sehingga diperlukan langkah-langkah rekayasa lalu lintas untuk mengantisipasi kepadatan," jelas Jansen, menambahkan bahwa Polri akan terus memantau situasi dan menyesuaikan kebijakan lalu lintas sesuai dengan perkembangan arus kendaraan.
Polri juga mengingatkan masyarakat untuk merencanakan perjalanan dengan baik, mematuhi skema lalu lintas yang berlaku, serta mengutamakan keselamatan.
Jansen mengimbau agar pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi tidak memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan jika kondisi tubuh tidak fit.
"Kami mengimbau masyarakat untuk mengatur waktu perjalanan dengan baik, memanfaatkan kebijakan work from anywhere (WFA), serta tidak memaksakan diri apabila merasa lelah. Keselamatan harus menjadi prioritas utama," ujar Jansen.