JAKARTA – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia mengumumkan bahwa pengiriman prajurit TNI untuk menjalani misi perdamaian di Gaza, yang sebelumnya dijadwalkan mulai Mei mendatang, ditunda.
Selain itu, pembahasan mengenai Board of Peace (BoP) yang dicetuskan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga masih ditangguhkan.
Penundaan ini seiring dengan perkembangan situasi yang terus dipantau oleh pemerintah Indonesia.
Baca Juga: Ketegangan Timur Tengah Dorong Harga Minyak ke Level Tertinggi dalam 3,5 Tahun, Brent Capai US$ 108,65 Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl, dalam keterangan persnya pada Jumat (20/3/2026), menjelaskan bahwa keputusan penundaan ini diambil guna menyesuaikan dengan dinamika terkini di kawasan Timur Tengah.
"Dapat kami sampaikan bahwa pengiriman pasukan perdamaian Indonesia ke Gaza saat ini ditunda dan segala pembahasan terkait Board of Peace masih ditangguhkan (on hold)," ujar Vahd kepada wartawan.
Vahd menegaskan bahwa Indonesia terus memantau secara seksama perkembangan situasi di Timur Tengah, khususnya yang berkaitan dengan masalah keamanan.
Indonesia, lanjutnya, berkomitmen untuk berpartisipasi dalam upaya perdamaian internasional, tetapi tetap berlandaskan pada kepentingan nasional dan hukum internasional.
"Pemerintah Indonesia terus memantau secara seksama perkembangan situasi, khususnya situasi keamanan di Timur Tengah," kata Vahd.
"Setiap kemungkinan partisipasi Indonesia dalam International Stabilization Force (ISF) akan selalu berada di bawah kendali penuh Indonesia, berdasarkan mandat Dewan Keamanan PBB Resolusi 2803 (2025), serta selaras dengan politik luar negeri bebas-aktif kami," tambahnya.
Sebelumnya, diberitakan bahwa pasukan internasional, termasuk Indonesia, direncanakan akan dikerahkan ke Jalur Gaza mulai Mei 2026, sebagai bagian dari fase berikutnya dalam rencana perdamaian yang diprakarsai oleh Presiden AS Donald Trump.
Laporan media Israel, KAN, mengungkapkan bahwa sekitar 5.000 tentara Indonesia diperkirakan akan bergabung dengan pasukan internasional tersebut, yang akan ditempatkan di wilayah Gaza selatan, terutama di sekitar Rafah.
Namun, dengan penundaan ini, rencana pengiriman pasukan internasional, yang juga akan melibatkan negara-negara seperti Kazakhstan, Maroko, Albania, dan Kosovo, dipastikan akan mengalami penyesuaian.