TAPANULI SELATAN – Kerusakan tutupan hutan di kawasan Ekosistem Batangtoru dinilai berdampak langsung terhadap perubahan kondisi aliran Sungai Batangtoru.
Selain menyebabkan kualitas air menurun, kondisi tersebut juga disebut mengancam keberlangsungan tradisi kearifan lokal masyarakat setempat.
Ketua DPW Sarekat Hijau Indonesia Sumatera Utara, Hendra Hasibuan, mengatakan hilangnya tutupan hutan di wilayah hulu menjadi salah satu penyebab utama memburuknya kondisi sungai di kawasan tersebut.
Baca Juga: Jelang Idul Fitri 1447 H, Pemkab Simalungun Lakukan Sidak Pasar untuk Jaga Stabilitas Harga "Jika tutupan hutan hilang, tentu akan mempengaruhi aliran sungai sehingga terlihat kumuh, khususnya di daerah Ekosistem Batangtoru. Salah satu dampaknya adalah hilangnya tradisi kearifan lokal seperti Marpangir dan Mamasu Dahanon," kata Hendra, Sabtu, 15 Maret 2026.
Menurutnya, aktivitas di kawasan hulu seperti pembukaan lahan, pertambangan, hingga perkebunan skala besar berkontribusi terhadap deforestasi yang kemudian berdampak pada kualitas air sungai.
Sungai Batangtoru Pernah Dikenal Jernih
Beberapa tahun lalu, kualitas air Sungai Batangtoru bahkan sempat diuji secara simbolis oleh sejumlah pejabat daerah.
Saat itu, mantan Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan Bupati Tapanuli Selatan Syahrul M. Pasaribu pernah meminum langsung air sungai tersebut sebagai bentuk keyakinan terhadap kebersihannya.
Pada masa itu, Sungai Batangtoru dikenal memiliki banyak jenis ikan air tawar. Aktivitas memancing dan menjala ikan kerap dilakukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Selain sebagai sumber pangan, sungai juga menjadi ruang sosial dan budaya masyarakat. Tradisi Marpangir dan Mamasu Dahanon—ritual adat yang memanfaatkan air sungai—pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sepanjang kawasan ekosistem Batangtoru.
Namun kini, aktivitas tersebut hampir tidak lagi dilakukan.
Kekhawatiran Pencemaran