JAKARTA – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan dirancang sebagai program bisnis.
Menurutnya, program ini lahir dari kepedulian Presiden Prabowo Subianto terhadap kondisi masyarakat miskin.
"Jadi Pak Prabowo itu menganggap program MBG itu bukan orientasi bisnis," ujar Nanik dalam workshop bertajuk Penguatan Strategi Komunikasi dan Implementasi Kehumasan, Sabtu (7/3/2026).
Baca Juga: Nuzulul Qur’an 1447 H di Padangsidimpuan: Wali Kota Ajak Masyarakat Cintai dan Amalkan Nilai Al-Qur’an Gagasan MBG berawal dari pengalaman Prabowo saat melihat kondisi masyarakat di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, pada 2012.
Saat itu, warga mengais sisa makanan dari buruh pabrik untuk dikonsumsi bersama keluarga mereka.
"Pak Prabowo waktu itu sangat marah melihat kondisi tersebut. Dari situlah muncul tekad beliau, jika suatu saat mendapat amanah menjadi presiden, ingin memastikan masyarakat, terutama anak-anak, mendapatkan makanan yang layak," ujar Nanik.
Sejak itu, MBG dirancang sebagai investasi sosial dan kemanusiaan. Pemerintah membuka peluang kemitraan bagi lembaga yang ingin terlibat dalam penyediaan layanan dapur MBG.
Namun, Nanik mengakui, seiring berjalannya waktu, muncul pihak yang mendirikan yayasan semata-mata untuk mengelola dapur MBG dengan orientasi bisnis.
"Akhirnya target (MBG) sangat tinggi sekali, muncullah 'ternak-ternak' yayasan. Banyak orang memiliki lebih dari satu dapur," katanya.
Untuk menjaga tujuan kemanusiaan program ini, Nanik menegaskan, BGN akan terus mengevaluasi seluruh mitra penyelenggara MBG.
Kontrak kerja sama dengan mitra berlaku satu tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi.
"Mereka lupa, mereka hanya kontrak satu tahun yang bisa diperpanjang. Artinya, sewaktu-waktu kita bisa sudahi kerja sama dengan mereka. Kita akan luruskan lagi ke khitahnya bahwa MBG bukan bisnis, tapi MBG adalah program kemanusiaan, investasi sosial," tegasnya.