BANDUNG – Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah per hari, dengan 44,51 persen berupa sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan.
Dominasi sampah organik ini menjadi tantangan karena penanganan yang belum optimal dapat menimbulkan penumpukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) serta berdampak pada lingkungan.
Merespons hal ini, Kementerian Ketenagakerjaan melalui Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung bekerja sama dengan Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan, Green Future Guardian Chapter, dan Inovasi Muda menggelar program Green Jobs Class Chapter Bandung pada Sabtu (14/2/2026) di BBPVP Bandung.
Baca Juga: Daur Ulang Sampah di Binjai, Contoh Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat untuk Lingkungan Lebih Bersih Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor, menyampaikan bahwa program ini tidak hanya edukasi, tetapi juga praktik pengolahan sampah organik yang dapat meningkatkan kesadaran, keterampilan, dan mendorong solusi pengelolaan sampah yang produktif.
"Melalui pengelolaan sampah yang baik, beban TPA dapat dikurangi, dampak lingkungan ditekan, serta dihasilkan kompos yang memiliki nilai guna. Inilah contoh bagaimana persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang kerja yang produktif," ujar Wamenaker.
Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta, terdiri dari mahasiswa serta anggota komunitas Gorong-gorong Bersih (GOBER) dan Gerakan Olah Sampah (GASLAH).
Peserta dilatih untuk menerapkan praktik pengolahan sampah di lingkungan masing-masing dan berkontribusi dalam pengembangan green jobs di tingkat komunitas.
Program ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam menciptakan masyarakat yang sadar lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi melalui pekerjaan ramah lingkungan.*
(dh)