MEDAN — Ratusan nelayan di Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara, menggelar aksi unjuk rasa menolak rencana reklamasi di kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan, Jumat, 13 Februari 2026.
Mereka menilai proyek tersebut berpotensi mengganggu aktivitas melaut dan mengancam mata pencaharian nelayan tradisional.
Aksi yang diikuti nelayan dari berbagai kelompok itu dipusatkan di kantor Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB) Gabion.
Baca Juga: Pemko Medan dan Walubi Sepakati Perayaan Imlek 2577 Kongzili Bertepatan Ramadan, Dimulai Usai Salat Tarawih Massa yang tergabung dalam Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) membawa spanduk penolakan dan menyampaikan orasi secara bergantian.
Dalam tuntutannya, para nelayan menolak rencana penimbunan dan pelebaran alur keluar-masuk kapal yang menjadi bagian dari proyek reklamasi.
Mereka khawatir perubahan kontur perairan akan mempersempit ruang tangkap ikan, mengganggu jalur pelayaran kapal kecil, serta berdampak pada nelayan kerang yang menggantungkan hidup di kawasan tersebut.
Ketua KNTI Sumatera Utara, M. Isa Basir, mengatakan nelayan tidak menolak pembangunan, namun meminta pemerintah mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi yang akan ditimbulkan.
"Kalau tuntutan ini tidak didengar, kami siap melanjutkan aksi ke tingkat yang lebih tinggi," ujarnya dalam orasi.
Aksi sempat memanas ketika terjadi pembakaran sampan di depan kantor PPSB.
Aparat kepolisian dari Polres Pelabuhan Belawan memadamkan api dan mengamankan situasi agar tidak meluas.
Perwakilan PPSB kemudian menerima sepuluh orang perwakilan nelayan untuk melakukan dialog di aula kantor pelabuhan.
Dalam pertemuan itu, pihak pelabuhan menyatakan akan menyampaikan aspirasi nelayan kepada pimpinan yang saat ini berada di Jakarta serta membuka ruang komunikasi lanjutan.