ACEH UTARA— Sepekan menjelang Ramadhan 1447 Hijriah, ratusan warga di Desa Leubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, masih hidup tanpa aliran listrik.
Hingga Jumat, 13 Februari 2026, jaringan yang rusak akibat banjir besar pada November tahun lalu belum sepenuhnya pulih.
Baca Juga: Pemerintah Salurkan Dana Stimulan Rp369,5 Miliar untuk Perbaikan Rumah Rusak di Aceh, Sumut, dan Sumbar Kepala Desa Leubok Pusaka, Janni, mengatakan dua dusun—Translok dan Sarah Raja—masih mengalami pemadaman total.
Tiang, kabel, dan trafo listrik dilaporkan hilang terseret arus banjir dan belum terpasang kembali."Untuk dusun lain seperti Seuleumak, Bidari, dan Tanoh Merah, listrik sudah menyala di fasilitas umum. Tapi kabel ke rumah warga belum terpasang," kata Janni saat dihubungi, Jumat.
Desa tersebut dihuni 543 kepala keluarga atau 764 jiwa. Sejak listrik padam pada 26 November 2025, warga terpaksa bergantung pada mesin generator untuk penerangan.
Konsekuensinya, mereka harus membeli bahan bakar secara swadaya di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih."Solusinya mengandalkan generator. Tapi terasa berat, karena banyak warga tidak bekerja tetap," ujarnya.
Sebagian warga kini bekerja sebagai tukang dalam proyek rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Pembangunan hunian sementara (huntara) bagi korban banjir disebut telah mencapai sekitar 80 persen. Meski demikian, pekerjaan tersebut bersifat sementara dan belum sepenuhnya menjamin keberlanjutan pendapatan.
Selain persoalan listrik, pemerintah desa juga berharap bantuan bahan pangan tetap mengalir.
Persediaan logistik di desa yang berada di wilayah pedalaman Kabupaten
Aceh Utara itu diperkirakan hanya cukup untuk beberapa hari ke depan.
Sementara itu, Manajer PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Kota Lhokseumawe, Husni, menyatakan tim teknis masih bekerja memulihkan jaringan di lokasi terdampak.
"Kami targetkan, selambat-lambatnya Ramadhan sudah menyala seluruh desa itu," kata Husni.