JAKARTA — Keputusan penutupan Kebun Binatang Bandung melalui Surat Keputusan pencabutan izin lembaga konservasi menuai kritik tajam dari Mayor Jenderal TNI (Purn) Dr. Saurip Kadi.
Ia menilai kebijakan tersebut bukan semata persoalan administratif, melainkan telah menyentuh isu serius menyangkut etika pemerintahan, kepatuhan terhadap arahan Presiden, serta penghormatan terhadap sejarah.
Dalam wawancara dengan media di Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026, Saurip menyebut penutupan Kebun Binatang Bandung sebagai keputusan janggal dan berlebihan.
Baca Juga: PKB Sebut Presiden Prabowo Nilai Pilkada Lebih Efektif Dilakukan Melalui DPRD Menurut dia, kebun binatang yang berdiri sejak 1933 itu bukan sekadar fasilitas rekreasi, melainkan situs bersejarah dan ruang publik yang menjadi bagian dari memori kolektif warga Bandung.
"Yang ditutup ini bukan bangunan biasa. Ini situs sejarah, ruang edukasi lintas generasi, dan warisan ekologis yang telah hidup hampir satu abad. Maka wajar jika publik mempertanyakan dasar dan nurani kebijakan tersebut," kata Saurip.
Saurip menyoroti waktu pengambilan keputusan yang dinilainya bermasalah.
Penutupan Kebun Binatang Bandung dilakukan tak lama setelah Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Nasional agar kepala daerah menjaga dan melindungi situs sejarah serta kebudayaan.
Menurut Saurip, arahan tersebut bukan sekadar imbauan moral, melainkan pernyataan politik negara yang memiliki konsekuensi komando dan tanggung jawab institusional.
"Ketika arahan Presiden baru saja disampaikan, lalu muncul kebijakan yang justru bertolak belakang, pertanyaannya sederhana: ini kelalaian atau pembangkangan?" ujarnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa penutupan Kebun Binatang Bandung hanya persoalan teknis administrasi dan konservasi.
Menurutnya, kebijakan tersebut tidak mencerminkan prinsip negara hukum dan demokrasi partisipatif.
"Penutupan dilakukan tanpa proses pengadilan, tanpa kajian sejarah yang komprehensif, dan tanpa pelibatan publik. Ini tindakan sepihak yang mengabaikan prinsip kehati-hatian," kata Saurip.