JAKARTA - Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eddy Hermawan, mengingatkan ancaman serius tenggelamnya kawasan pesisir Pulau Jawa, khususnya wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura).
Ia menilai pendekatan pembangunan dinding laut raksasa atau giant sea wall berpotensi menimbulkan risiko baru karena menambah beban pada tanah pesisir yang sudah rentan.
"Jangan gunakan giant wall. Karena itu beratnya minta ampun. Dia akan menenggelamkan," kata Eddy, Rabu, 4 Februari 2026.
Baca Juga: TNI Bersinergi dengan Kodim dan Yonif 741, Laksanakan Pembersihan Pantai Jerman Secara Menyeluruh Menurut Eddy, solusi berbasis alam (nature-based solutions) justru lebih realistis untuk menghadapi ancaman kenaikan muka air laut dan penurunan tanah (land subsidence).
Ia mendorong pengembalian fungsi alam melalui sistem pemecah gelombang alami dengan konsep main loop, yakni memecah energi gelombang secara bertahap sebelum mencapai daratan.
Salah satu cara yang diusulkan adalah pemanfaatan hutan mangrove sebagai penyangga alami.
Vegetasi mangrove dinilai mampu meredam energi gelombang laut sehingga tidak langsung menghantam kawasan permukiman.
"Back to natural. Gelombang besar itu harus dipecah bertahap. Mangrove berfungsi sebagai buffer," ujar Eddy.
Selain perlindungan alami, Eddy menekankan pentingnya keselamatan penduduk pesisir melalui relokasi yang terencana.
Ia mengusulkan agar permukiman dipindahkan minimal 500 meter dari garis pantai dan berada di lokasi yang lebih tinggi untuk mengurangi risiko banjir rob maupun tsunami.
"Penduduk jangan tinggal dekat pantai. Sudah dijauhkan, dinaikkan pula elevasinya. Ini soal keselamatan," kata dia.
Eddy menilai pendekatan alami lebih masuk akal karena krisis iklim global, termasuk mencairnya es di kutub, tidak dapat dihentikan secara instan oleh teknologi.