MEDAN – Rencana pengoperasian kembali PT Toba Pulp Lestari (PT TPL) yang sebelumnya dicabut izinnyabersama 27 perusahaan lain dan akan dikelola oleh PT Danantara, memicu reaksi keras dari Lamsiang Sitompul, Ketua Umum DPP Horas Bangso Batak (HBB).
Dalam sebuah PodcastBUKA-BUKAAN bitvonline.com, Senin (2/2/2026), Lamsiang menegaskan penolakan HBB terhadap pengoperasian kembali PT TPL tersebut. Ia juga meminta agar pemerintah harus "bertobat" dan memperhatikan dampak ekologis serta hak masyarakat.
Baca Juga: Kadisnaker Sumut Imbau 15 Perusahaan yang Dicabut Izinnya Tetap Penuhi Hak Pekerja, Hindari PHK Sepihak "Negara memang harus bertobat. Apa masih kurang besar bencana kemarin sebagai peringatan dari Tuhan? Yang diinginkan masyarakat adalah pulihkan hutan dan kembalikan lahan masyarakat," tegas Lamsiang di Podcast BUKA-BUKAAN yang dipandu Pemimpin Redaksi bitvonline.com Abyadi Siregar.
Menurutnya, pengoperasian PT TPL dengan pola lama di bawah kendali PT Danantara—menggantikan hutan beragam dengan tanaman satu jenis seperti eukaliptus—adalah kesalahan fatal yang merusak keseimbangan ekosistem.
"Bumi ini bisa lestari karena tanaman dan hewan yang multikultural. Menjadikan hutan tanaman sejenis berarti melawan Tuhan," tambahnya.
Selain dampak lingkungan, Lamsiang menyoroti persoalan hak ulayat masyarakat. Ia menilai klaim lahan operasional PT TPL terhadap 167.000 hektar tidak jelas, dan banyak lahan masyarakat yang terdampak tidak mendapatkan kejelasan.
"Dulu di era Belanda ada pemetaan dan redistribusi lahan untuk warga. Sekarang malah tanah rakyat dibagi-bagi, lebih 'Belanda' mana Belanda daripada pemerintah sendiri?" katanya.
HBB menegaskan akan terus bersuara menuntut penutupan permanen PT TPL di bawah kendali PT Danantara, sembari menyerukan agar pemerintah menyeimbangkan pembangunan dengan pelestarian alam. Lamsiang juga menekankan, jika pemerintah mengabaikan aspirasi masyarakat, Tuhan akan tetap mendengar.
"Perintah Tuhan jelas: tinggal di bumi dan pelihara. Jika kita merusak, Tuhan marah. Makanya, pemerintah harus bertobat!" pungkas Lamsiang.*(tp/dh)