SWISS – Presiden RI, Prabowo Subianto, mengakui bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang hidup sangat sederhana, bahkan "makan nasi dengan garam", namun tetap tersenyum dan bahagia.
Pernyataan ini disampaikan saat Prabowo menghadiri World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Kamis (22/1/2026).
"Banyak rakyat saya tinggal di gubuk, tidak punya air bersih atau kamar mandi, tapi mereka tetap tersenyum dan punya harapan," kata Prabowo, mengomentari survei internasional yang menempatkan Indonesia sebagai negara paling bahagia di dunia.
Baca Juga: Trump Umumkan Proyek “New Gaza”, Targetkan Kota Pasca-Perang Jadi Pusat Investasi dan Hunian Modern Survei yang digelar Gallup Poll dan Universitas Harvard pada 2025 ini meneliti lebih dari 200 ribu responden di 22 negara, mencakup 64 persen populasi global.
Hasilnya menunjukkan masyarakat Indonesia berada di peringkat pertama dalam kategori kesejahteraan berkembang, yang tidak hanya menilai ekonomi, tetapi juga kesehatan fisik dan mental, makna hidup, karakter, serta hubungan sosial yang kuat.
"Ini mengharukan bagi saya karena sebagian besar rakyat kita masih hidup sederhana dan belum sejahtera. Namun, mereka tetap mengatakan bahwa mereka bahagia. Fenomena ini membingungkan bangsa lain," tambah Prabowo.
Hasil survei menyoroti kekuatan hubungan sosial dan keterlibatan komunitas masyarakat Indonesia, yang menjadi faktor utama kebahagiaan dibandingkan kekayaan materi.
Indonesia menempati peringkat teratas, meninggalkan Amerika Serikat di posisi ke-12 dan Jepang di posisi terakhir.
Negara lain dengan peringkat tinggi termasuk Israel, Filipina, Meksiko, dan Polandia.
Salah satu peneliti, Brendan Case, menekankan bahwa temuan ini menunjukkan pembangunan global sebaiknya tidak hanya fokus pada ekonomi, tetapi juga keseimbangan antara pertumbuhan dan nilai-nilai kemanusiaan, seperti tujuan hidup, hubungan antarindividu, dan kebajikan.
Menurut Prabowo, hasil survei ini menegaskan bahwa kebahagiaan rakyat Indonesia bukan hanya tentang materi, tetapi juga kekuatan sosial dan harapan yang tetap hidup meski dalam keterbatasan.*