PANGKEP – Evakuasi korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Pangkep, harus dilakukan melalui jalur darat karena kondisi cuaca ekstrem.
Hujan badai yang melanda puncak gunung membuat evakuasi udara tidak memungkinkan.
Danrem 142/Toddopuli, Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan, menyatakan bahwa proses evakuasi tetap menjadi prioritas, meski harus menempuh rute yang lebih berat.
Baca Juga: Satu Korban Pesawat ATR 42-500 Ditemukan, Evakuasi Dilakukan Jalur Darat "Jelas (evakuasi udara) sudah tidak mungkin. Evakuasi darat menjadi satu-satunya opsi karena kita juga mengejar kepastian bagi keluarga korban," ujar Andre di Posko Operasi SAR gabungan, Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Selasa (20/1).
Hingga saat ini, jenazah korban laki-laki yang ditemukan pada Minggu (18/1) masih dalam proses evakuasi dari puncak gunung menuju posko.
Sedangkan jenazah korban wanita yang ditemukan Senin (19/1) tertahan di lereng gunung dan akan ditarik menggunakan tali ke puncak sebelum dibawa ke posko.
Selain cuaca buruk, medan yang terjal menjadi tantangan utama bagi tim SAR. Andre menyebut medan berbukit dan jurang memerlukan strategi evakuasi yang berbeda dari pemetaan standar di daerah datar.
"Kita sudah punya pemetaan, tinggal memutar dari tempat kecil menjadi lebih lebar. Tapi medan ini berbeda karena banyak jurang," jelasnya.
Pesawat ATR 42-500 yang mengangkut penumpang rute Yogyakarta-Makassar hilang kontak pada Sabtu (17/1).
Pesawat kemudian diketahui jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, memicu operasi SAR gabungan yang melibatkan aparat TNI, Polri, Basarnas, dan relawan lokal.
Evakuasi jenazah melalui jalur darat diharapkan selesai secepat mungkin agar keluarga korban mendapatkan kepastian, sekaligus meminimalkan risiko bagi tim SAR yang menghadapi kondisi alam ekstrem.*
(d/dh)