MEDAN – Desa Sigiring-Giring di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, masih terisolasi lebih dari dua bulan pasca bencana yang terjadi November 2025.
Untuk mempercepat pemulihan, pihak TNI, Polri, dan pemerintah daerah menambah bantuan alat berat di lokasi terdampak.
Pangdam I/BB Mayjen Hendy Antariksa menyebut Desa Sigiring-Giring menjadi satu-satunya wilayah di Tapteng yang belum sepenuhnya terakses.
Baca Juga: Andar Amin Harahap Kantongi Dukungan Mayoritas DPD Golkar Sumut, Musda XI Kian Terbaca Saat ini, proses pemulihan tengah berjalan, termasuk pendistribusian logistik sebanyak 1,2 ton beras dan kebutuhan pokok lainnya.
"Proses rehabilitasi dan rekonstruksi sedang berjalan. Fokus kita saat ini adalah fasilitas umum, termasuk sekolah-sekolah yang terdampak bencana," kata Hendy saat ditemui di Pelabuhan Belawan, Medan, Minggu (18/1).
Hendy menambahkan, bantuan alat berat baru saja diterima dari Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) dan langsung dikirim ke Tapteng.
Bantuan meliputi empat ekskavator, aramco untuk pembangunan jembatan, dan alat untuk pembuatan sumur bor. Sejak bencana, sekitar 5.837 personel TNI dan Polri dikerahkan untuk mendukung penanganan di lapangan.
Targetnya, material sisa bencana berupa tanah dan kayu dapat dibersihkan sebelum Ramadan 2026.
Dengan demikian, masyarakat dapat kembali melaksanakan aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan ekonomi dan pendidikan anak-anak.
"Harapannya, warga bisa kembali beraktivitas normal dan kehidupan sosial-ekonomi pulih pasca bencana," ujar Hendy.
Pemulihan Desa Sigiring-Giring menjadi bagian dari upaya pemerintah dan aparat keamanan dalam memastikan seluruh wilayah terdampak bencana di Sumut dapat diakses dan kehidupan masyarakat kembali normal.*
(ds/dh)