ACEH TENGAH – Hampir dua bulan pasca banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh Tengah pada 26 November 2025, 43 desa di wilayah itu masih mengalami pemadaman listrik.
Gangguan ini berdampak pada ribuan warga yang terdampak bencana serta sejumlah fasilitas publik yang belum beroperasi normal.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Aceh Tengah, Mustafa Kamal, menjelaskan setiap desa yang masih padam telah mendapatkan bantuan generator set (genset) dari Kementerian ESDM.
Baca Juga: Pemerintah Percepat Pembangunan Huntara untuk Warga Terdampak Banjir dan Longsor Sumut Bantuan tersebut menjadi solusi sementara sambil menunggu percepatan pemulihan jaringan listrik oleh PLN.
"Setiap kampung yang padam sudah tersedia bantuan genset sambil menunggu percepatan recovery listrik dari PLN," kata Mustafa Kamal, Selasa (13/1/2026).
Berdasarkan data terakhir, dari 295 desa di Aceh Tengah, 252 desa sudah menyala listrik sepenuhnya, termasuk sembilan kecamatan yang telah pulih 100 persen.
Sementara itu, desa yang masih padam tersebar di lima kecamatan, yaitu Ketol (10 desa), Linge (14 desa), Bintang (3 desa), Silih Nara (1 desa), dan Rusip Antara (16 desa).
Tiga rumah sakit juga telah kembali beroperasi dengan listrik, yakni RSUD Datu Beru, RSU Fandika, dan RS Gayo Medical Center.
Namun, sebanyak 24 desa di satu kecamatan masih terisolir, dengan total warga terdampak mencapai 10.914 orang.
Sejauh ini, tercatat korban meninggal akibat bencana mencapai 25 orang, sementara tiga lainnya masih hilang.
Jumlah pengungsi tercatat sebanyak 5.414 warga lokal dan 587 warga dari luar Aceh Tengah, tersebar di 40 titik pengungsian.
Pemerintah daerah bersama PLN dan Kementerian ESDM terus melakukan upaya pemulihan jaringan listrik agar warga bisa kembali beraktivitas normal.