ACEH TAMIANG— Presiden Prabowo Subianto mengkritik penggunaan atap seng pada hunian sementara (huntara) bagi korban banjir di Aceh Tamiang, Sumatera
Menurut Prabowo, material seng berpotensi membuat suhu di dalam rumah menjadi terlalu panas dan tidak nyaman bagi penghuninya.
Kritik tersebut disampaikan Prabowo saat meninjau pembangunan huntara yang dikerjakan oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Baca Juga: Tanpa Kembang Api, Tanpa Pesta: Malam Tahun Baru 2026 di Posko Pengungsian Tapanuli Selatan Penuh Harapan Ia meminta agar pihak pelaksana mencari alternatif material atap yang lebih ramah terhadap iklim tropis.
"Kalau atapnya seng, panas. Harus dipikirkan solusinya," kata Prabowo dalam rapat bersama jajaran menteri dan direksi BUMN, Kamis, 1 Januari 2026.
Prabowo menyarankan penggunaan bahan lokal atau material sederhana yang lebih mampu meredam panas, seperti ijuk atau anyaman tradisional.
Ia juga membuka kemungkinan penggunaan lapisan tambahan dari bahan tekstil di bawah atap seng sebagai solusi sementara.
Menurut Prabowo, pembangunan huntara tidak semata soal kecepatan, tetapi juga kenyamanan dan keberlanjutan bagi para korban bencana. "Yang penting bagaimana kita meringankan penderitaan rakyat," ujarnya.
Selain soal material bangunan, Prabowo meminta Danantara berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta pemerintah daerah agar pembangunan huntara tidak tumpang tindih.
Ia juga menekankan pentingnya integrasi hunian dengan fasilitas umum.
Pemerintah, kata Prabowo, tengah menyiapkan instruksi presiden untuk membentuk satuan tugas khusus rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana di wilayah Sumatera.
Saat ini, Danantara tengah membangun 600 unit huntara di Aceh Tamiang sebagai bagian dari rencana pembangunan 15.000 unit di tiga provinsi terdampak bencana.