MEDAN – Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, mengimbau masyarakat untuk tidak merayakan pesta kembang api atau kegiatan berlebihan pada pergantian Tahun Baru 2026.
Imbauan ini disampaikan menyusul kondisi kota dan wilayah sekitar Sumatera yang masih berduka akibat bencana hidrometeorologi dan kerusakan ekologi.
"Pemko Medan sudah menyarankan untuk tidak melaksanakan pesta kembang api akhir tahun. Kami sarankan tidak ada kegiatan yang bermewah-mewah ataupun aktivitas berlebihan," ujar Rico usai menghadiri rapat Paripurna DPRD Medan, Senin (29/12/2025).
Baca Juga: 16.264 KK Korban Banjir di Sumatera Pilih Dana Rp 600.000/Bulan Ketimbang Huntara Menurutnya, momen pergantian tahun sebaiknya dimanfaatkan untuk refleksi dan doa bersama keluarga.
"Utamakan berdoa, berkumpul bersama keluarga, yang sederhana saja. Intinya untuk kondisi Medan, kita masih prihatin dengan situasi bencana yang masih terjadi," tambahnya.
Rico menegaskan, doa-doa yang dipanjatkan di akhir tahun diharapkan menjadi penguat untuk pembangunan kota yang lebih baik dan meminimalkan risiko bencana di masa depan.
"Harapannya pembangunan ke depan bisa on track, berjalan baik, tidak terjadi bencana dan kendala. Namun kita harus restart lagi, terutama jika ada kerusakan drainase dan jalan akibat bencana," jelasnya.
Memasuki awal 2026, Pemko Medan akan mengefektifkan program penanganan banjir dan memperkuat kesiagaan BPBD.
Personel siaga 24 jam akan disiagakan, dan Wali Kota sendiri akan memantau kondisi di malam pergantian tahun.
Selain itu, perhatian khusus diberikan kepada korban bencana. Pemko Medan bekerja sama dengan Kementerian Sosial untuk menyalurkan santunan bagi 20 korban terdampak bencana.
Berdasarkan data BNPB hingga 28 Desember 2025, jumlah korban meninggal akibat banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar mencapai 1.140 jiwa, dengan 163 orang masih hilang.
Aceh menjadi wilayah terdampak paling parah dengan 513 korban meninggal dan 377.853 orang mengungsi.