BANDA ACEH – Ustadz Abdul Somad (UAS) memberikan sindiran keras terhadap praktik pembalakan hutan saat memberikan tausiah peringatan 21 tahun Tsunami Aceh, yang dirangkai dengan doa bersama untuk korban banjir bandang dan longsor, di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Jum'at (26/12).
Dalam tausiahnya, UAS menegaskan bahwa bencana alam yang terjadi bukan semata karena takdir, melainkan juga akibat perbuatan manusia yang merusak keseimbangan alam, baik di daratan maupun di laut.
Ia menjelaskan pentingnya akar pohon dalam menahan tanah dan air untuk mencegah longsor.
Baca Juga: Kibarkan Bendera Putih di Abdya, Ratusan Massa GAM Tuntut Penetapan Banjir dan Longsor Sebagai Bencana Nasional "Akarnya memegang tanah dan dia menahan air. Kalau pohon ditumbang, akarnya copot dan lapuk, sehingga tanah tidak bisa menahan air, air pun turun ke bawah," ujarnya.
UAS menekankan bahwa prinsip ini adalah pelajaran dasar Ilmu Pengetahuan Alam yang diajarkan sejak sekolah dasar.
Ia juga menyindir pihak-pihak yang terlibat dalam pembalakan hutan secara tidak langsung.
"Tangan saya tidak pernah memotong, ustaz. Tangan saya tidak pernah pegang kapak, tidak pernah pegang chainsaw. Memang tanganmu tidak pernah motong, tapi tanda tanganmu yang memotong hutan," ucapnya disambut tawa jamaah.
Selain tausiah, UAS menyerahkan bantuan kemanusiaan untuk korban banjir di Aceh berupa 1 ton daging rendang, 10 ton beras, satu unit mobil colt diesel berisi pakaian layak pakai, mushaf Al-Qur'an, buku Iqra, serta rencana renovasi masjid-masjid terdampak bencana.
Bantuan disalurkan melalui Yayasan Tabung Wakaf Umat.
Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah (Dek Fad), yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengajak masyarakat menjadikan peringatan tsunami sebagai momentum refleksi dan meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama.
"Semoga tausiah dari Ustadz Abdul Somad menjadi penyejuk hati dan membangkitkan semangat masyarakat Aceh untuk bangkit kembali," ujar Dek Fad.
Kegiatan tersebut dihadiri ribuan jamaah, unsur Forkopimda Aceh, jajaran SKPA, serta para alim ulama dari berbagai daerah.*