LHOKSEUMAWE – Danrem 011/Lilawangsa, Ali Imran, menegaskan agar bantuan kemanusiaan untuk korban bencana di Aceh tidak dimanfaatkan oleh pihak atau kelompok tertentu untuk kepentingan politik.
Pernyataan itu disampaikan menyusul tindakan sekelompok orang yang membawa bantuan sambil mengibarkan bendera sparatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
"Tujuan kelompok ini tidak lain untuk mengklaim bantuan dan menggiring opini bahwa bantuan berasal dari GAM. Padahal sejak awal, pemerintah pusat dan dermawan dari dalam maupun luar Aceh silih berganti menyalurkan bantuan kemanusiaan," kata Danrem, Kamis (25/12/2025).
Baca Juga: Tgk Saifuddin A. Rasyid Ingatkan Umat Islam Ambil Hikmah Bencana Akhir Tahun Danrem menegaskan, TNI tidak melarang siapapun membawa bantuan untuk korban bencana. Namun, pihaknya meminta agar simbol separatis tidak dibawa karena hal itu dilarang.
"Kami menghentikan rombongan hanya agar tidak membawa bendera GAM. Namun kelompok ini menolak dan bahkan menantang TNI," ujarnya.
Lebih jauh, Ali Imran menekankan pentingnya menjaga aksi kemanusiaan tetap murni.
Prajurit TNI turut hadir membantu korban banjir dan longsor di Aceh, memastikan distribusi bantuan berjalan lancar.
Menurutnya, pemerintah pusat juga menunjukkan perhatian besar melalui kunjungan pejabat negara dan pengiriman bantuan secara masif.
"Ini Indonesia, sudah merdeka sejak 1945. Bendera kita satu, Sang Saka Merah Putih. Tidak ada Merdeka-Merdeka lagi di sini," tegasnya.
Insiden ini terjadi di dua lokasi berbeda, yakni Simpang Kandang, Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, dan di depan Kantor Bupati Aceh Utara, Gampong Keutapang, Kecamatan Lhoksukon.
Pantauan di lapangan menunjukkan pejabat pemerintah daerah tidak hadir, hanya Danrem didampingi Dandim 0103/Aceh Utara, Kapolres Lhokseumawe, dan Kasi Intel Korem 011/Lilawangsa.*
(dh)