TAPANULI SELATAN – Kondisi lingkungan di kawasan aliran anak Sungai Sibio-bio, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Tapanuli Selatan, memprihatinkan.
Warga setempat mengeluhkan perubahan kualitas air, kebun yang tidak lagi produktif, serta kemunculan kayu gelondongan yang terbawa arus sungai saat hujan deras.
Baca Juga: Hujan Deras Picu Longsor di SMPN 7 Salatiga, Kerugian Capai Rp50 Juta Sejumlah warga menyebut, perubahan mulai terasa dalam beberapa tahun terakhir, seiring meluasnya aktivitas tambang emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources (PTAR).
Air sungai yang sebelumnya jernih kini kerap keruh, berbau, dan diduga mengandung zat kimia dari kawasan tambang.
"Dulu air bisa langsung dipakai untuk kebun dan ternak. Sekarang baunya aneh, warnanya berubah. Tanaman padi tidak tumbuh normal, karet mengering, sayuran mati sebelum panen," kata seorang warga Sosopan yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Selain persoalan air, warga menyoroti kemunculan kayu gelondongan yang terbawa arus sungai.
Kayu-kayu tersebut diduga berasal dari kawasan hulu aliran Sungai Sibio-bio yang berbatasan dengan area tambang emas Martabe.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara menilai kerusakan lingkungan dan banjir bandang yang melanda wilayah Sumatera Utara, Aceh, hingga Sumatera Barat bukanlah murni bencana alam, melainkan akibat masifnya aktivitas industri ekstraktif.
Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Rianda Purba, menyebut kerusakan ekosistem Batang Toru sebagai akumulasi kebijakan yang memberi ruang luas bagi perusahaan pengeruk sumber daya alam.