JAKARTA– Pemulihan layanan air bersih di Aceh pascabanjir masih terkendala serius akibat pasokan listrik yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini membuat Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) terpaksa mengoperasikan instalasi pengolahan air dengan genset berbahan bakar minyak (BBM), yang menimbulkan biaya operasional tinggi.
Ketua DPD Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) Aceh, Sulaiman, menjelaskan ketersediaan listrik menjadi kebutuhan mendesak untuk mengembalikan pelayanan air bersih bagi masyarakat terdampak bencana. "Saat ini, kami sangat terkendala dengan listrik, ada beberapa tempat kami pakai pompa menggunakan listrik," ujarnya dalam konferensi pers daring, Sabtu (20/12/2025).
Selama 15 hari pertama masa tanggap darurat, kebutuhan BBM untuk menjalankan genset di Kabupaten Aceh Besar mencapai 37 ton. Meski pompa air tetap dapat beroperasi dengan genset, pelayanan air bersih belum optimal karena keterbatasan daya dan distribusi. Hingga kini, hanya Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar yang pasokan listriknya pulih sepenuhnya, sementara daerah lain masih dalam pemulihan bertahap.
Baca Juga: Gelombang Pertama Bantuan Bencana Aceh: Selimut dan Pakaian Baru Disalurkan Sulaiman juga menyebut prioritas lain untuk pemulihan layanan air bersih, seperti tandon atau tempat penampungan air, serta bahan kimia untuk proses pengolahan. Dampak banjir cukup parah, dengan 17 dari 23 instalasi PDAM di Aceh mengalami kerusakan berat. PDAM di wilayah yang tidak terlalu terdampak diarahkan untuk membantu daerah terdampak parah, meski sempat terkendala komunikasi akibat jaringan terputus saat awal bencana.
Pemerintah daerah bersama PDAM terus memperbaiki infrastruktur agar layanan air bersih dapat kembali optimal dan berkelanjutan.*
(k/dh)